Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Desember 2010


Imam Syafi'i

Nama dan Nasab
Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Usman bin Safi'I dan bertemu nasabnya dengan nabi Muhammad dengan Abdul Manaf
Kelahiran
Lahir pada tahun 150 H di Ghozah dan ibunya membawa beliau ke Mekkah setelah beliau berusia 2 tahun dan dari ibunya tersebut beliau belajar al qur'an


Guru-guru
Diantara guru-guru beliau adalah paman beliau sendiri Muhammad bin Ali kemudian abdul Aziz bin Majisun dan kepada imam Malik beliau belajar Al Muwatho'
Kehidupan ilmiah
Pada usia 10 tahun beliau belajar bahasa dan syair hingga mantab. Kemudian belajar fiqih , hadis dan al qur'an kepada ismail bin qostantin, kemudian menghafal muwatho' dan mengujikannya kepada imam Malik. Imam Muslim bin Kholid mengijinkan beliau berfatwa ketika beliau berusia 10 tahun atau kurang. Menulis dari Muhammad bin Hasan ilmu fiqih. Imam Malik melihat kekuatan dan kecerdasan beliau sehingga memuliakan dan menjadikan Syafi'i sebagai orang dekatnya

Sejarah Singkat Imam Bukhari


Kelahiran dan Masa Kecil Imam Bukhari


Imam Bukhari (semoga Allah merahmatinya) lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju'fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy. Sebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim, juga tidak dapat melihat karena buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya tersebut). Ibunya senantiasa berusaha dan berdo'a untuk kesembuhan beliau. Alhamdulillah, dengan izin dan karunia Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara total.



Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.

Husain bin Ali bin Abi Talib

Husain bin Ali bin Abi Talib (4-61 H) adalah putra kedua dari perkawinan Ali bin Abu Talib dengan Fatimah. Dia tidak mau membaiat Yazid, sehingga dia terbunuh dalam perang Karbala tanggal 10 Muharam 61 H/680 M.

Riwayat Hidup Al-Husein dan Peristiwa Pembunuhannya
Oleh: Ustadz Muhammad Umar Sewed
Beliau dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun ke-empat Hijriyah. Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam men-tahnik (yakni mengunyahkan kurma kemudian dimasukkan ke mulut bayi dengan digosokkan ke langit-langitnya Husein. Demikianlah dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, juz VIII, hal. 152.
Berkata Ibnul Arabi dalam kitabnya Al-Awashim minal Qawashim: “Disebutkan oleh ahli tarikh bahwa surat-surat berdatangan dari ahli kufah kepada Al-Husein (setelah meninggalnya Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu). Kemudian Al-Husein mengirim Muslim Ibnu Aqil, anak pamannya kepada mereka untuk membai’at mereka dan melihat bagaimana keikutsertaan mereka. Maka Ibnu Abbas radhiyal­lahu ‘anhu memberitahu beliau (Al-Husein) bahwa mereka dahulu pernah mengkhianati bapak dan saudaranya. Sedangkan Ibnu Zubair mengisya ratkan kepadanya agar dia berangkat, maka berang katlah Al-Husein. Sebelum sampai beliau di Kufah ternyata Muslim Ibnu Aqil telah terbunuh dan dise rahkan kepadanya oleh orang-orang yang memanggilnya. “Cukup bagimu ini sebagai peringat an bagi yang mau mengambil peringatan” (kelihatannya yang dimaksud adalah ucapan Ibnu Abbas kepada Al-Husein haq.

Jumat, 10 Desember 2010

Biografi Aisyah bin Abu Bakar ra.

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. membuka lembaran kehidupan rumah tangganya dengan Aisyah  yang telah banyak dikenal. Aisyah laksana lautan luas dalam kedalaman ilmu dan takwa. Di kalangan wanita, dialah sosok yang banyak menghafal hadits-hadits Nabi, dan di antara istri-istri Nabi, dia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki istri Nabi yang lain. Ayahnya adalah sahabat dekat Rasulullah yang menemani beliau hijrah. Berbeda dengan istri Nabi yang lain, kedua orang tua Aisyah melakukan hijrah bersama Rasulullah. . Ketika wahyu datang kepada Rasulullah, Jibril membawa kabar bahwa Aisyah adalah istrinya di dunia dan akhirat, sebagaimana diterangkan di dalam hadits riwayat Tirmidzi dari Aisyah : . ‘Jibril datang membawa gambarnya pada sepotong sutera hijau kepada Nabi Shallallahu alaihi wassalam., lalu berkata, ini adalah istrimu di dunia dan akhirat.” Dialah yang menjadi sebab atas turunnya firman Allah yang menerangkan kesuciannya dan membebaskannya dari fitnah orang-orang munafik. A. Nasab dan Masa KeciI Aisyab Aisyah adalah putri Abdullah bin Quhafah bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tamim bin Marrah bin Ka’ab bin Luay, yang lebih dikenal dengan nama Abu Bakar ash-Shiddiq  dan berasal dari suku Quraisy at-Taimiyah al-Makkiyah. Ayahnya adalah ash-Shiddiq dan orang pertama yang mempercayai Rasulullah ketika terjadi Isra’ Mi’raj, saat orang-orang tidak mempercayainya. Menurut riwayat, ibunya bernama Ummu Ruman. Akan tetapi, riwayat-riwayat lain mengatakan bahwa ibunya adalah Zainab atau Wa’id binti Amir bin Uwaimir bin Abdi Syams. Aisyah pun digolongkan sebagai wanita pertama yang masuk Islam, sebagaimana perkataannya, “Sebelum aku berakal, kedua orang tuaku sudah menganut Islam.

Rabu, 08 Desember 2010

Biografi Imam Syafi’i


Nama beliau ialah Muhammad bin Idris bin Al-‘Abbas bin ‘Uthman bin Shafi’ bin Al-Saib bin ‘Ubaid bin Yazid bin Hashim bin ‘Abd al-Muttalib bin ’Abd Manaf bin Ma’n bin Kilab bin Murrah bin Lu’i bin Ghalib bin Fahr bin Malik bin Al-Nadr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrakah bin Ilias bin Al-Nadr bin Nizar bin Ma’d bin ‘Adnan bin Ud bin Udad. Keturunan beliau bertemu dengan titisan keturunan Rasulullah s.a.w pada ‘Abd Manaf. Ibunya berasal dari Kabilah Al-Azd, satu kabilah Yaman yang masyhur. . Penghijrahan ke Palestina Sebelum beliau dilahirkan, keluarganya telah berpindah ke Palestina kerana beberapa keperluan dan bapanya terlibat di dalam angkatan tentera yang ditugaskan untuk mengawal perbatasan Islam di sana. . Kelahiran dan Kehidupannya Menurut pendapat yang masyhur, beliau dilahirkan di Ghazzah – Palestina pada tahun 150 Hijrah. Tidak lama sesudah beliau dilahirkan bapanya meninggal dunia. Tinggallah beliau bersama-sama ibunya sebagai seorang anak yatim. Kehidupan masa kecilnya dilalui dengan serba kekurangan dan kesulitan.

Jumat, 03 Desember 2010

Biografi Ringkas Imam Nawawi

Disusun Oleh: Ustadz Anas Burhanuddin
Beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain AnNawawi
AdDimasyqiy,
Abu Zakaria. Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah
kampung di daerah Dimasyq (Damascus) yang sekarang merupakan ibukota Suriah.
Beliau dididik oleh ayah beliau yang terkenal dengan kesalehan dan ketakwaan. Beliau
mulai belajar di katatib (tempat belajar baca tulis untuk anakanak)
dan hafal AlQuran
sebelum menginjak usia baligh.
Ketika berumur sepuluh tahun, Syaikh Yasin bin Yusuf AzZarkasyi
melihatnya
dipaksa bermain oleh temanteman
sebayanya, namun ia menghindar, menolak dan
menangis karena paksaan tersebut. Syaikh ini berkata bahwa anak ini diharapkan akan
menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan
manfaat yang besar kepada umat Islam. Perhatian ayah dan guru beliau pun menjadi
semakin besar.
AnNawawi
tinggal di Nawa hingga berusia 18 tahun. Kemudian pada tahun 649 H
ia memulai rihlah thalabul ilminya
ke Dimasyq dengan menghadiri halaqahhalaqah
ilmiah yang diadakan oleh para ulama kota tersebut. Ia tinggal di madrasah Arrawahiyyah
di dekat AlJami'
AlUmawiy.
Jadilah thalabul ilmi sebagai kesibukannya yang
utama. Disebutkan bahwa ia menghadiri dua belas halaqah dalam sehari. Ia rajin sekali
dan menghafal banyak hal. Ia pun mengungguli temantemannya
yang lain. Ia berkata:
"Dan aku menulis segala yang berhubungan dengannya, baik penjelasan kalimat yang
sulit maupun pemberian harakat pada katakata.
Dan Allah telah memberikan barakah
dalam waktuku." [Syadzaratudz Dzahab, 5/355].
Diantara syaikh beliau: Abul Baqa' AnNablusiy,
Abdul Aziz bin Muhammad AlAusiy,
Abu Ishaq AlMuradiy,
Abul Faraj Ibnu Qudamah AlMaqdisiy,
Ishaq bin Ahmad
AlMaghribiy
dan Ibnul Firkah. Dan diantara murid beliau: Ibnul 'Aththar AsySyafi'iy,
Abul Hajjaj AlMizziy,
Ibnun Naqib AsySyafi'iy,
Abul 'Abbas AlIsybiliy
dan Ibnu 'Abdil
Hadi.
Pada tahun 651 H ia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, kemudian ia pergi
ke Madinah dan menetap di sana selama satu setengah bulan lalu kembali ke Dimasyq.
Pada tahun 665 H ia mengajar di Darul Hadits AlAsyrafiyyah
(Dimasyq) dan menolak
untuk mengambil gaji.
Beliau digelari Muhyiddin (yang menghidupkan agama) dan membenci gelar ini
karena tawadhu' beliau. Di samping itu, agama islam adalah agama yang hidup dan
kokoh, tidak memerlukan orang yang menghidupkannya sehingga menjadi hujjah atas
orangorang
yang meremehkannya atau meninggalkannya. Diriwayatkan bahwa beliau
berkata: "Aku tidak akan memaafkan orang yang menggelariku Muhyiddin."
Imam AnNawawi
adalah seorang yang zuhud, wara' dan bertakwa. Beliau
sederhana, qana'ah dan berwibawa. Beliau menggunakan banyak waktu beliau dalam
ketaatan. Sering tidak tidur malam untuk ibadah atau menulis. Beliau juga menegakkan
amar ma'ruf nahi munkar, termasuk kepada para penguasa, dengan cara yang telah
digariskan Islam. Beliau menulis surat berisi nasihat untuk pemerintah dengan bahasa
yang halus sekali. Suatu ketika beliau dipanggil oleh raja AzhZhahir
Bebris untuk
menandatangani sebuah fatwa. Datanglah beliau yang bertubuh kurus dan berpakaian
Artikel www.muslim.or.id
Artikel boleh disebarluaskan dengan syarat menyertakan sumbernya 2
sangat sederhana. Raja pun meremehkannya dan berkata: "Tanda tanganilah fatwa ini!!"
Beliau membacanya dan menolak untuk membubuhkan tanda tangan. Raja marah dan
berkata: "Kenapa !?" Beliau menjawab: "Karena berisi kezaliman yang nyata." Raja
semakin marah dan berkata: "Pecat ia dari semua jabatannya!" Para pembantu raja
berkata: "Ia tidak punya jabatan sama sekali." Raja ingin membunuhnya tapi Allah
menghalanginya. Raja ditanya: "Kenapa tidak engkau bunuh dia padahal sudah bersikap
demikian kepada Tuan?" Raja pun menjawab: "Demi Allah, aku sangat segan padanya."
Imam Nawawi meninggalkan banyak sekali karya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya
sekitar empat puluh kitab, diantaranya:
1. Dalam bidang hadits: Arba'in, Riyadhush Shalihin, AlMinhaj
(Syarah Shahih Muslim),
AtTaqrib
wat Taysir fi Ma'rifat Sunan AlBasyirin
Nadzir.
2. Dalam bidang fiqih: Minhajuth Thalibin, Raudhatuth Thalibin, AlMajmu'.
3. Dalam bidang bahasa: Tahdzibul Asma' wal Lughat.
4. Dalam bidang akhlak: AtTibyan
fi Adab Hamalatil Qur'an, Bustanul Arifin, AlAdzkar.
Kitabkitab
ini dikenal secara luas termasuk oleh orang awam dan memberikan
manfaat yang besar sekali untuk umat. Ini semua tidak lain karena taufik dari Allah
Ta'ala, kemudian keikhlasan dan kesungguhan beliau dalam berjuang.
Secara umum beliau termasuk salafi dan berpegang teguh pada manhaj ahlul hadits,
tidak terjerumus dalam filsafat dan berusaha meneladani generasi awal umat dan menulis
bantahan untuk ahlul bid'ah yang menyelisihi mereka. Namun beliau tidak ma'shum
(terlepas dari kesalahan) dan jatuh dalam kesalahan yang banyak terjadi pada ulamaulama
di zaman beliau yaitu kesalahan dalam masalah sifatsifat
Allah Subhanahu wa
ta'ala. Beliau kadang menta'wil
dan kadangkadang
tafwidh. Orang yang memperhatikan
kitabkitab
beliau akan mendapatkan bahwa beliau bukanlah muhaqqiq dalam bab ini,
tidak seperti dalam cabang ilmu yang lain. Dalam bab ini beliau banyak mendasarkan
pendapat beliau pada nukilannukilan
dari para ulama tanpa mengomentarinya.
Adapun memvonis Imam Nawawi sebagai Asy'ari, itu tidak benar karena beliau
banyak menyelisihi mereka (orangorang
Asy'ari) dalam masalahmasalah
aqidah yang
lain seperti ziyadatul iman dan khalqu af'alil 'ibad. Karyakarya
beliau tetap dianjurkan
untuk dibaca dan dipelajari, dengan berhatihati
terhadap kesalahankesalahan
yang ada.
Tidak boleh bersikap seperti kaum Haddadiyyun yang membakar kitabkitab
karya beliau
karena adanya beberapa kesalahan di dalamnya.
Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa kerajaan Saudi ditanya tentang aqidah
beliau dan menjawab: "Lahu aghlaath fish shifat" (Beliau memiliki beberapa kesalahan
dalam bab sifatsifat
Allah).
Imam Nawawi meninggal pada 24 Rajab 676 H rahimahullah
wa ghafarahu.
Catatan:
Lihat biografi beliau di Tadzkiratul Huffazh 147, Thabaqat AsySyafi'iyyah
AlKubra,
dan
Syadzaratudz Dzahab 5/354


Artikel by www.muslim.or.id

raden said

Kamis, 02 Desember 2010

Husain bin Ali bin Abu Talib (4-61 H)

Husain bin Ali bin Abu Talib (4-61 H)
Husain bin Ali bin Abu Talib adalah putra kedua dari perkawinan Ali bin Abu Talib dengan Fatimah. Dia tidak mau membaiat Yazid, sehingga dia terbunuh dalam perang Karbala tanggal 10 Muharam 61 H/680 M.
Riwayat Hidup Al-Husein dan Peristiwa Pembunuhannya
Oleh: Ustadz Muhammad Umar Sewed
Beliau dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun ke-empat Hijriyah. Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam men-tahnik (yakni mengunyahkan kurma kemudian dimasukkan ke mulut bayi dengan digosokkan ke langit-langitnya Husein. Demikianlah dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, juz VIII, hal. 152.
Berkata Ibnul Arabi dalam kitabnya Al-Awashim minal Qawashim: “Disebutkan oleh ahli tarikh bahwa surat-surat berdatangan dari ahli kufah kepada Al-Husein (setelah meninggalnya Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu). Kemudian Al-Husein mengirim Muslim Ibnu Aqil, anak pamannya kepada mereka untuk membai’at mereka dan melihat bagaimana keikutsertaan mereka. Maka Ibnu Abbas radhiyal­lahu ‘anhu memberitahu beliau (Al-Husein) bahwa mereka dahulu pernah mengkhianati bapak dan saudaranya. Sedangkan Ibnu Zubair mengisya ratkan kepadanya agar dia berangkat, maka berang katlah Al-Husein. Sebelum sampai beliau di Kufah ternyata Muslim Ibnu Aqil telah terbunuh dan dise rahkan kepadanya oleh orang-orang yang memanggilnya. “Cukup bagimu ini sebagai peringat an bagi yang mau mengambil peringatan” (kelihatannya yang dimaksud adalah ucapan Ibnu Abbas kepada Al-Husein haq. Bahkan beliau tidak mendengarkan nasehat orang yang paling alim pada jamannya yaitu ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan menyalahi pendapat syaikh para shahabat yaitu Ibnu Umar. Beliau mengharapkan permulaan pada akhir (hidup 
Tidak ada yang sepertinya di sekitarnya, tidak pula memiliki pembelapembela yang memelihara haknya atau yang bersedia mengorbankan dirinya untuk membelanya. Akhirnya kita ingin mensucikan bumi dari khamr Yazid, tetapi kita tumpahkan darah Al-Husein, maka datang kepada kita musibah yang menghilangkan kebahagiaan jaman. (lihat Al-Awashim minal Qawashim oleh Abu Bakar Ibnul ‘Arabi dengan tahqiq dan ta’liq Syaikh Muhibbuddin Al-Khatib, hal. 229-232)
Yang dimaksud oleh beliau dengan ucapannya ‘Kita ingin mensucikan bumi dari khamr Yazid, tetapi kita tumpahkan darah Al-Husein‘ adalah bahwa niat Al-Husein dengan sebagian kaum muslimin untuk mensucikan bumi dari khamr Yazid yang hal ini masih merupakan tuduhan-tuduhan dan tanpa bukti, tetapi hasilnya justru kita menodai bumi dengan darah Al-Husein yang suci. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhibbudin Al-Khatib dalam ta’liq-nya terhadap buku Al-Awashim Minal Qawashim.