Namaku Arthur Alison, seorang profesor yang menjabat Kepala Jurusan Teknik Elektro
Universitas London. Sebagai orang eksak, bagiku semua hal bisa dikatakan benar jika masuk
akal dan sesuai rasio. Karena itulah, pada awalnya agama bagiku tak lebih dari objek studi.
Sampai akhirnya aku menemukan bahwa Al Quran, mampu menjangkau pemikiran manusia.
Bahkan lebih dari itu. Maka aku pun memeluk Islam.
Itu bermula saat aku diminta tampil untuk berbicara tentang metode kedokteran spiritual.
Undangan itu sampai kepadaku karena selama beberapa tahun, aku mengetuai Kelompok
Studi Spiritual dan Psikologis Inggris. Saat itu, aku sebenarnya telah mengenal Islam melalui
sejumlah studi tentang agama-agama.
Pada September 1985 itulah, aku diundang untuk mengikuti Konferensi Islam Internasional
tentang 'Keaslian Metode Pengobatan dalam Al Quran'di Kairo. Pada acara itu, aku
mempresentasikan makalah tentang 'Terapi dengan Metode Spiritual dan Psikologis dalam Al
Quran'.
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS.Yusuf :111).
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Rabu, 09 Maret 2011
AL-BALKHI DAN SI BURUNG PINCANG
Alkisah, hiduplah pada zaman dahulu seorang yang terkenal dengan kesalehannya, bernama al-
Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal sangat
zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishak.
Pada suatu hari, al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat,
tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama al-Balkhi
meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia
pulang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang ditujunya sangat jauh
Created by: Syihab
Page 29 of 38
lokasinya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di masjid langsung bertanya kepada al-
Balkhi, sahabatnya. "Wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat?"
"Dalam perjalanan", jawab al-Balkhi, "aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan
untuk segera membatalkan perjalanan".
"Keanehan apa yang kamu maksud?" tanya Ibrahim bin Adham penasaran.
"Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak", jawab al-Balkhi
menceritakan, "aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun kemudian
bertanya-tanya dalam hati. "Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal ia berada di
tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa".
"Tidak lama kemudian", lanjut al-Balkhi, "ada seekor burung lain yang dengan susah payah
menghampirinya sambil membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku terus
memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena
ia berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat".
"Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu?" tanya Ibrahim bin Adham yang belum
mengerti maksud kepulangan sahabat karibnya itu dengan segera.
"Maka aku pun berkesimpulan", jawab al-Balkhi seraya bergumam, "bahwa Sang Pemberi Rizki
telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari
teman-temannya. Kalau begitu, Allah Maha Pemberi, tentu akan pula mencukupkan rizkiku
sekali pun aku tidak bekerja". Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera
pulang saat itu juga".
Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal sangat
zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishak.
Pada suatu hari, al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat,
tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama al-Balkhi
meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia
pulang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang ditujunya sangat jauh
Created by: Syihab
Page 29 of 38
lokasinya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di masjid langsung bertanya kepada al-
Balkhi, sahabatnya. "Wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat?"
"Dalam perjalanan", jawab al-Balkhi, "aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan
untuk segera membatalkan perjalanan".
"Keanehan apa yang kamu maksud?" tanya Ibrahim bin Adham penasaran.
"Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak", jawab al-Balkhi
menceritakan, "aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun kemudian
bertanya-tanya dalam hati. "Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal ia berada di
tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa".
"Tidak lama kemudian", lanjut al-Balkhi, "ada seekor burung lain yang dengan susah payah
menghampirinya sambil membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku terus
memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena
ia berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat".
"Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu?" tanya Ibrahim bin Adham yang belum
mengerti maksud kepulangan sahabat karibnya itu dengan segera.
"Maka aku pun berkesimpulan", jawab al-Balkhi seraya bergumam, "bahwa Sang Pemberi Rizki
telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari
teman-temannya. Kalau begitu, Allah Maha Pemberi, tentu akan pula mencukupkan rizkiku
sekali pun aku tidak bekerja". Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera
pulang saat itu juga".
Minggu, 02 Januari 2011
SALMAN AL-FARIS R.A
Kelahiran dan pertumbuhannya:
Salman Al-Farisi r.a. lahir di suatu desa bernama Jiyan di wilayah kota Aspahan - Iran, yaitu antara kota Teheran dengan Syiraz. Setelah Salman r.a. mendengar kebangkitan Rasulullah saw. dia langsung berangkat meninggalkan Persia mencari Nabi saw. untuk menyatakan keislamannya. Dalam suatu kisah, Salman menceritakan otobiografinya sbb. 'Saya adalah anak muda Persia yang berasal dari suatu desa di kota Aspahan yang bernama Jiyan.
Ayah saya adalah kepala desa dan orang terkaya serta terhormat di desa itu. Dari sejak lahir, saya adalah orang yang paling disayanginya, kasih sayangnya kepada saya semakin hari semakin kental, sehingga saya di kurung di rumah bagaikan gadis pingitan. Saya termasuk orang yang takwa dalam agama majusi, sehingga saya merasakan nilai api yang kami sembah itu dan saya diberi tanggungjawab menyalakannya, jangan sampai padam sepanjang hari dan sepanjang malam.
Bertobat dengan Hati
Pada suatu hari Rasulullah mendapat berita yang mengagetkan tentang salah seorang sahabatnya. "Ia sedang mengalami sakaratul maut. Sudah kami talkin agar menyebut nama Allah, tetapi lidahnya bagai terkunci," demikian tutur si pembawa kabar.
Rasulullah bergegas menuju ke rumah sahabatnya itu. Sebab, ia seorang mukmin yang beriman, pejuang yang ikhlas, dan dermawan yang tekun beribadah. Ia harus diselamatkan.
"Sahabatku, katakanlah la ilaha illallah," ujar Nabi. Tetapi, orang itu hanya membisu saja.
Katakanlah illallah," desak Nabi. Masih juga orang itu memandang kosong.
"Katakanlah Allah," Nabi berbisik kembali. Orang itu tetap bengong. Lalu, menghembuskan napas penghabisan.
Para sahabat menjerit kecil. Mereka sangat sedih menyaksikan rekan setia itu mengakhiri hidup di dunianya tanpa mampu melafalkan kalimat tauhid. Namun, anehnya Nabi malah tersenyum ceria dan wajahnya bersinar cerah. Tentu saja para sahabat keheranan. Di antara mereka, ada yang tidak tahan untuk segera melontarkan pertanyaan.
"Wahai kekasih Allah, alangkah menyakitkan sikapmu. Kami semua cemas memikirkan nasib malang yang menimpa rekan kami itu di akhirat kelak, mengapa engkau justru kelihatan gembira?"
Nabi, masih bersinar-sinar menjawab. "Tidakkah kalian lihat menjelang ajalnya, ia menatap ke atas sekilas? Ia menghadap Allah dengan isyarat mata. Ia tidak mampu bertobat dengan lidahnya. Tetapi, ia memohon ampun dengan hatinya. Aku senang sekali, karena Allah berfirman kepadaku bahwa kedatangannya diterima dalam rida-Nya."
Rasulullah bergegas menuju ke rumah sahabatnya itu. Sebab, ia seorang mukmin yang beriman, pejuang yang ikhlas, dan dermawan yang tekun beribadah. Ia harus diselamatkan.
"Sahabatku, katakanlah la ilaha illallah," ujar Nabi. Tetapi, orang itu hanya membisu saja.
Katakanlah illallah," desak Nabi. Masih juga orang itu memandang kosong.
"Katakanlah Allah," Nabi berbisik kembali. Orang itu tetap bengong. Lalu, menghembuskan napas penghabisan.
Para sahabat menjerit kecil. Mereka sangat sedih menyaksikan rekan setia itu mengakhiri hidup di dunianya tanpa mampu melafalkan kalimat tauhid. Namun, anehnya Nabi malah tersenyum ceria dan wajahnya bersinar cerah. Tentu saja para sahabat keheranan. Di antara mereka, ada yang tidak tahan untuk segera melontarkan pertanyaan.
"Wahai kekasih Allah, alangkah menyakitkan sikapmu. Kami semua cemas memikirkan nasib malang yang menimpa rekan kami itu di akhirat kelak, mengapa engkau justru kelihatan gembira?"
Nabi, masih bersinar-sinar menjawab. "Tidakkah kalian lihat menjelang ajalnya, ia menatap ke atas sekilas? Ia menghadap Allah dengan isyarat mata. Ia tidak mampu bertobat dengan lidahnya. Tetapi, ia memohon ampun dengan hatinya. Aku senang sekali, karena Allah berfirman kepadaku bahwa kedatangannya diterima dalam rida-Nya."
raden said
Kebaikan Ali bin Abi Thalib ra mendahulukan Ummar bin Khattab ra.
Pada suatu hari Umar bin Khattab pergi mengadukan Ali bin Abi Thalib kepada rasulullah saw. Katanya ,"Ya Rasulullah, Ali tidak pernah memulai mengucapkan salam kepadaku..."
Mendengar pengaduan itu Rasulullah segera memanggil Ali Ra untuk datang. lalu Rasulullah bertanya kepadanya,"Ali, benarkah engkau tidak pernah memberikan salam terlebih dahulu kepada Umar?"
Ali bin Abi Thalib ra menjawab,"Ya rasulullah. Hal ini aku lakukan juga krena ucapan rasulullah yang mengatakan: "Siapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah akan mendirikan istana baginya di surya". Karena itulah rasulullah, aku selalu ingin Umar mendahuluiku mengucapkan salam supaya ia bisa mendapatkan istana di surga!"
Mendengar pengaduan itu Rasulullah segera memanggil Ali Ra untuk datang. lalu Rasulullah bertanya kepadanya,"Ali, benarkah engkau tidak pernah memberikan salam terlebih dahulu kepada Umar?"
Ali bin Abi Thalib ra menjawab,"Ya rasulullah. Hal ini aku lakukan juga krena ucapan rasulullah yang mengatakan: "Siapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah akan mendirikan istana baginya di surya". Karena itulah rasulullah, aku selalu ingin Umar mendahuluiku mengucapkan salam supaya ia bisa mendapatkan istana di surga!"
raden said
SI Fakir dan SI Kaya
Pada suatu hari Rasulullah saw duduk-duduk bersama seorang fakir miskin, lalu datang orang kaya menemuinya. Kebetulan dia tidak mendapat tempat lain, kecuali tempat di sebelah fakir miskin yang masih kosong. Namun kemudian dia menarik-narik ujung-ujung kainnya agar jangan sampai menyentuh pakainan dan badan si fakir miskin. Melihat tingkah laku yang demikian, rasulullah bertanya,"Kenapa kamu menarik-narik ujung-ujung kainmu? Apakah kamu khawatir kekayaanmu sampai menyentuh si fakir ini?"
Orang kaya itu benar-benar terpukul dengan teguran rasulullah, lalu katanya dengan nada menyesal,'Ya rasullah, sebagau kifarat atas dosa-dosaku, aku akan memberikan setengah dari hartaku kepada orang fakir ini."
Rasulullah bertanya kepada si fakir,"Ya abdallah, maukah kau menerima hibahnya?"
Namun s fakir menjawab," tidak ya Rasulullah."
Rasulullah bertanya dengan nada heran," Mengapa?"
Dia menjawab," Aku tidak ingin kaya ya Rasulullah. Aku takut menjadi sombong kepada makhluk Allah seperti yang tadi dilakukan orang ini."
Orang kaya itu benar-benar terpukul dengan teguran rasulullah, lalu katanya dengan nada menyesal,'Ya rasullah, sebagau kifarat atas dosa-dosaku, aku akan memberikan setengah dari hartaku kepada orang fakir ini."
Rasulullah bertanya kepada si fakir,"Ya abdallah, maukah kau menerima hibahnya?"
Namun s fakir menjawab," tidak ya Rasulullah."
Rasulullah bertanya dengan nada heran," Mengapa?"
Dia menjawab," Aku tidak ingin kaya ya Rasulullah. Aku takut menjadi sombong kepada makhluk Allah seperti yang tadi dilakukan orang ini."
raden said
Rabu, 22 Desember 2010
Al-Hasan Al-Bashri
Datanglah seorang pembawa khabar gembira untuk menyampaikan berita gembira kepada istri Nabi Ummu Salamah, bahwa budak perempuannya “Khairah” telah melahirkan anak laki-laki.
Maka berbunga-bungalah hati Ibu kaum mu’minin RA, dan kegembiraan itu telah membuat wajahnya yang cakap dan wibawa bersinar-sinar.
Beliau segera mengutus utusan supaya ibu dan anaknya dibawa kepadanya untuk mengisi waktu nifas di rumahnya.
Waktu itu Khairah sangat dimuliakan dan dicintai oleh Ummu Salamah. Beliau ingin segera melihat anak yang baru lahir. Tidak lama kemudian datanglah Khairah dengan menggendong anaknya.
Beliau segera mengutus utusan supaya ibu dan anaknya dibawa kepadanya untuk mengisi waktu nifas di rumahnya.
Waktu itu Khairah sangat dimuliakan dan dicintai oleh Ummu Salamah. Beliau ingin segera melihat anak yang baru lahir. Tidak lama kemudian datanglah Khairah dengan menggendong anaknya.
Ketika kedua mata Ummu Salamah melihat anak bayi ini, hatinya merasa sayang dan lega. Anak kecil yang baru lahir sangat tampan dan ganteng, jauh pandangannya, sempurna ciptaannya, menyenangkan orang yang melihatnya dan memikat orang yang memandangnya.
Kemudian Ummu Salamah mengarahkan pandangannya ke arah budak perempuannya dan berkata, “Apakah kamu telah memberinya nama, wahai Khairah?”
Khairah menjawab, “Belum wahai Ibu. Masalah nama saya serahkan kepada engkau, supaya engkau memilih nama yang engkau sukai.”
Khairah menjawab, “Belum wahai Ibu. Masalah nama saya serahkan kepada engkau, supaya engkau memilih nama yang engkau sukai.”
Muhammad Al-Hanafiyah bin Ali bin Abi Thalib
Suatu ketika terjadi perselisihan dan menyebabkan saling menjauh antara Muhammad Al-Hanafiyah dengan kakaknya Hasan bin Ali. Kemudina Muhammad Al-Hanafiyah menulis surat kepada Hasan sebagai berikut: “Sesungguhnya Allah memberikan keutamaan kepada Anda melebihi diriku. Ibumu adalah Fathimah binti Muhammad bin Abdillah, sedangkan ibuku adalah wanita dari Bani Hanifah. Kakekmu dari jalur ibu adalah Rasulullah pilihan-Nya, sedang kakekku dari jalur ibu adalah Ja’far bin Qais. Jika suratku ini sampai kepada Anda, saya berhara Anda berkenan datang kemari dan berdamai, agar Anda tetapi lebih utama dariku dalam segala hal…” sesampainya surat tersebut, Hasan bergegas mendatangi rumahnya untuk menjalin perdamaian. Siapakah gerakan pemuda yang santun, cerdas dan bijak yang bernama Muhammad Al-Hanafiyah ini? Marilah kita ikuti perjalanan hidupnya dari awal. Kita awali kisah ini dari detik-detik akhir kehidupan Rasulullah saw. Suatu hari, Ali bin Abi Thalib duduk bersama Rasulullah saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya saya punya anak lagi setelah Anda tiada, bolehkah saya memberi nama anakku dengan nama Anda dan saya berikan kunyah (julukan) dengan kunyah Anda (yakni Abu Al-Qasim)?” Nabi bersabda, “Boleh.” |
Sabtu, 11 Desember 2010
Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar
Sudahkah datang kepadamu berita tentang tabi’i yang mulia ini?
Ia adalah seorang pemuda yang telah mengumpulkan kemuliaan dari seluruh ujungnya, hingga tidak ada yang terlewatkan olehnya sedikitpun…
Ayahnya adalah Muhammad ibn Abi Bakar ash-Shiddiq…
Ayahnya adalah Muhammad ibn Abi Bakar ash-Shiddiq…
Ibunya adalah putri Kaisar “Yazdajurda” raja Persia yang terakhir…
Bibinya adalah ‘Aisyah ummul mukminin…
Di atas itu semua, ia telah memasang mahkota takwa dan ilmu di atas kepalanya.
Bibinya adalah ‘Aisyah ummul mukminin…
Di atas itu semua, ia telah memasang mahkota takwa dan ilmu di atas kepalanya.
Apakah kamu mengira bahwa di atas kemuliaan ini ada kemuliaan lain yang orang-orang saling berlomba-lomba untuk mendapatkannya?
Dialah al-Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakar ash-Shiddiq, satu dari tujuh ahli fiqih kota Madinah (al-Fuqaha’ as-Sab’ah)*…Penduduk zamannya yang paling afdlol dalam hal ilmu…paling tajam akalnya dan paling wara’.
Maka, marilah kita mulai kisah kehidupannya dari awal.
Al-Qasim ibn Muhammad dilahirkan pada akhir-akhir dari kekhalifahan Utsman ibn Affan RA…akan tetapi belum lagi anak kecil ini mampu berjalan di sarangnya sehingga angin fitnah yang kencang berhembus di tengah-tengah kaum muslimin.
Al-Qasim ibn Muhammad dilahirkan pada akhir-akhir dari kekhalifahan Utsman ibn Affan RA…akan tetapi belum lagi anak kecil ini mampu berjalan di sarangnya sehingga angin fitnah yang kencang berhembus di tengah-tengah kaum muslimin.
Maka, syahidlah khalifah yang ahli ibadah lagi zuhud yaitu Dzunnurrain sedangkan tulang sulbinya condong ke depan mendekap al-Qur`an.
‘Abdullah Ibnu Ummi Maktum Radhiyallahu ‘anhu
Abdullah bin Umar bin Syuraikh, seorang sahabat asal Quraisy ini termasuk peserta hijrah ke Madinah rombongan pertama. Beliau sampai di Madinah sebelum kedatangan Rasulullah Shalalahu ‘alaihi Wassalam. Beliau meninggal dalam perang Qadisiah membawahi sebuah brigade.
‘Abdullah bin Ummi Maktum, orang mekah suku Quraisy. Dia mempunyai ikatan keluarga dengan Rasululah Shalalahu ‘alaihi Wassalam. Yaitu anak paman Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid Ridhwanullah ‘Alaiha. Bapaknya Qais bin Zaid, dan ibunya ‘Atikah binti ‘Abdullah. Ibunya bergelar “Umi Maktum” karena anaknya ‘Abdullah lahir dalam keadaan buta total.
‘Abdullah bin Ummi Maktum menyaksikan ketika cahaya Islam mulai memancar di Makkah. Allah melapangkan dadanya menerima agama baru itu. Karena itu tidak diragukan lagi dia tidak termasuk kelompok yang pertama-tama masuk Islam. Sebagai muslim kelompok pertama, ‘Abdullah turut menanggung segala macam suka duka kaum muslimin di Makkah ketika itu. Dia turut menderita siksaan kaum Quraisy seperti diderita kawan kawannya seagama, berupa penganiayaan dan berbagai macam tindakan kekerasan lainnya. Tetapi apakah karena tindakan-tindakan kekerasan itu Ibnu ummi Maktum menyerah? Tidak……! Dia tidak pernah mundur dan tidak lemah iman. Bahkan dia semakin teguh berpegang pada ajaran Islam dan Kitabullah. Dia semakin rajin memepelajari syariat Islam dan seringh mendatangi majelis Rasulullah.
Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu
Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu, jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan dia akan mengampuni kamu. Dan, Allah Maha Pemgampun lagi Maha Penyayang”. (Q.,s. al-Anfaal : 70)
Menurut beberapa orang ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abbas bin Abdul Muththalib, Aqil bin Abdul Muththalib dan Naufal ibnu al-Harits.
Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu
Ia adalah paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salah seorang yang paling akrab dihatinya dan yang paling dicintainya. Karena itu, beliau senantiasa berkata menegaskan, “Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakiti Abbas sama dengan menyakitiku.”
Di zaman Jahiliah, ia mengurus kemakmuran Masjidil Haram dan melayani minuman para jamaah haji. Seperti halnya ia akrab di hati Rasulullah, Rasulullah pun dekat sekali di hatinya. Ia pemah menjadi pembantu dan penasihat utamanya dalam bai’at al-Aqabah menghadapi kaum Anshar dari Madinah.
Rabu, 08 Desember 2010
Kisah Nabi Ismail A.S
Sampai Nabi Ibrahim yang berhijrah meninggalkan Mesir bersama Sarah, isterinya dan Hajar, dayangnya di tempat tujuannya di Palestin. Ia telah membawa pindah juga semua binatang ternaknya dan harta miliknya yang telah diperolehinya sebagai hasil usaha niaganya di Mesir. Al-Bukhari meriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a.berkata: Pertama-tama yang menggunakan setagi {setagen} ialah Hajar ibu Nabi Ismail tujuan untuk menyembunyikan kandungannya dari Siti Sarah yang telah lama berkumpul dengan Nabi Ibrahim a.s. tetapi belum juga hamil. tetapi walaubagaimana pun juga akhirnya terbukalah rahsia yang disembunyikan itu dengan lahirnya Nabi Ismail a.s. Dan sebagai lazimnya seorang isteri sebagai Siti Sarah merasa telah dikalahkan oleh Siti Hajar sebagai seorang dayangnya yang diberikan kepada Nabi Ibrahim a.s. Dan sejak itulah Siti Sarah merasakan bahawa Nabi Ibrahim a.s. lebih banyak mendekati Hajar karena merasa sgt gembira dengan puteranya yang tunggal dan pertama itu, hal ini yang menyebabkan permulaan ada keratakan dalam rumahtangga Nabi Ibrahim a.s. sehingga Siti Sarah merasa tidak tahan hati jika melihat Siti Hajar dan minta pada Nabi Ibrahim a.s. supaya menjauhkannya dari matanya dan menempatkannya di lain tempat. . Utk sesuatu hikmah yang belum diketahui dan disadari oleh Nabi Ibrahim Allah s.w.t. mewahyukan kepadanya agar keinginan dan permintaan Sarah isterinya dipenuhi dan dijauhkanlah Ismail bersama Hajar ibunya dan Sarah ke suatu tempat di mana yang ia akan tuju dan di mana Ismail puteranya bersama ibunya akan di tempatkan dan kepada siapa akan ditinggalkan. Maka dengan tawakkal kepada Allah berangkatlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah membawa Hajar dan Ismail yang diboncengkan di atas untanya tanpa tempat tujuan yang tertentu. Ia hanya berserah diri kepada Allah yang akan memberi arah kepada binatang tunggangannya. Dan berjalanlah unta Nabi Ibrahim dengan tiga hamba Allah yang berada di atas punggungnya keluar kota masuk ke lautan pasir dan padang terbuka di mana terik matahari dengan pedihnya menyengat tubuh dan angin yang kencang menghembur-hamburkan debu-debu pasir.
Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a.
Setelah memegang urusan kaum muslimin, menjadi seorang Khalifah, kegemarannya itu
berubah menjadi kewajiban. Ia pernah berkata: "Apakah aku harus merasa puas disebut Amirul
Mukminin, sedangkan aku tidak menyertai kaum mukminin dalam masa kesusahan? Demi Allah,
seandainya aku mau, aku dapat memperoleh madu murni, gandum pilihan dan pakaian serba
halus. Tetapi, jauh nian aku bisa dikalahkan oleh hawa nafsu! Aku tidak sudi kekenyangan,
sedang di sekitarku banyak perut kelaparan, menderita dan sengsara."
Rasul Allah s.a.w. pernah mengatakan, bahwa kemiskinan mendekatkan orang kepada
kekufuran. Bertolak dari sini pulalah Imam Ali bin Abi Thalib r.a. muncul dengan sebuah
kalimat cemerlang: "Seandainya kemiskinan itu berupa orang, tentu ia sudah kubunuh!"
Sungguhpun Imam Ali bin Abi Thalib r.a. sudah meninggal dunia, namun ia senantiasa hidup
dalam semua nilai-nilai kebenaran yang diperjuangkannya sepanjang umur. Ia tetap akan hidup
182
sebagai tauladan...
download Ebooknya disini
posted by raden said
Jumat, 03 Desember 2010
Hafsah binti Umar bin Khathab
Beliau adalah Hafsah putri dari Umar bin Khathab, seorang shahabat agung yang melalui perantara beliau-lah Islam memiliki wibawa. Hafshah adalah seorang wanita yang masih muda dan berparas cantik, bertaqwa dan wanita yang disegani.
Pada mulanya beliau dinikahi salah seorang shahabat yang mulia bernama Khunais bin Khudzafah bin Qais As-Sahmi Al-Quraisy yang pernah berhijrah dua kali, ikut dalam perang Badar dan perang Uhud namun setelah itu beliau wafat di negeri hijrah karena sakit yang beliau alami waktu perang Uhud. Beliau meninggalkan seorang janda yang masih muda dan bertaqwa yakni Hafshah yang ketika itu masih berumur 18 tahun.
Umar benar-benar merasakan gelisah dengan adanya keadaan putrinya yang menjanda dalam keadaan masih muda dan beliau masih merasakan kesedihan dengan wafatnya menantunya yang dia adalah seorang muhajir dan mujahid. Beliau mulai merasakan kesedihan setiap kali masuk rumah melihat putrinya dalam keadaan berduka. Setelah berfikir panjang maka Umar berkesimpulan untuk mencarikan suami untuk putrinya sehingga dia dapat bergaul dengannya dan agar kebahagiaan yang telah hilang tatkala dia menjadi seorang istri selama kurang lebih enam bulan dapat kembali.
Umar benar-benar merasakan gelisah dengan adanya keadaan putrinya yang menjanda dalam keadaan masih muda dan beliau masih merasakan kesedihan dengan wafatnya menantunya yang dia adalah seorang muhajir dan mujahid. Beliau mulai merasakan kesedihan setiap kali masuk rumah melihat putrinya dalam keadaan berduka. Setelah berfikir panjang maka Umar berkesimpulan untuk mencarikan suami untuk putrinya sehingga dia dapat bergaul dengannya dan agar kebahagiaan yang telah hilang tatkala dia menjadi seorang istri selama kurang lebih enam bulan dapat kembali.
Imam Syafi’i Sang Pembela Sunnah dan Hadits Nabi
Nama dan Nasab
Beliau bernama Muhammad dengan kunyah Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-’Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau, yaitu Hasyim bin al-Muththalib.
Bapak beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah (Sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di ‘Asqalan (Kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana. Syafi’, kakek dari kakek beliau, -yang namanya menjadi sumber penisbatan beliau (Syafi’i)- menurut sebagian ulama adalah seorang sahabat shigar (yunior) Nabi. As-Saib, bapak Syafi’, sendiri termasuk sahabat kibar (senior) yang memiliki kemiripan fisik dengan Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam. Dia termasuk dalam barisan tokoh musyrikin Quraysy dalam Perang Badar. Ketika itu dia tertawan lalu menebus sendiri dirinya dan menyatakan masuk Islam.
Para ahli sejarah dan ulama nasab serta ahli hadits bersepakat bahwa Imam Syafi’i berasal dari keturunan Arab murni. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memberi kesaksian mereka akan kevalidan nasabnya tersebut dan ketersambungannya dengan nasab Nabi, kemudian mereka membantah pendapat-pendapat sekelompok orang dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah yang menyatakan bahwa Imam Syafi’i bukanlah asli keturunan Quraysy secara nasab, tetapi hanya keturunan secara wala’ saja. Adapun ibu beliau, terdapat perbedaan pendapat tentang jati dirinya. Beberapa pendapat mengatakan dia masih keturunan al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, sedangkan yang lain menyebutkan seorang wanita dari kabilah Azadiyah yang memiliki kunyahUmmu Habibah. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ibu Imam Syafi’i adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukan istinbath.
Keutamaan Abu Bakar Ash Shiddiq
(Disarikan dari terjemahan: AlIbanah
Lima lish Shahabah minal Manzilah wal Makaanah)
Anas meriwayatkan dari Abu Bakar bahwa ia berkata: "Saya pernah berkata kepada
Rasulullah ketika kami berdua berada dalam gua: 'Sekiranya salah seorang melihat ke
arah telapak kakinya pasti dapat melihat kita!' beliau bersabda: 'Bagaimana perkiraanmu
wahai Abu Bakar jika ada dua orang sedang Allah yang ketiganya.'" (HR. Bukhari dan Muslim)
Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah berkata kepadanya saat beliau sakit:
"Panggillah Abu Bakar kemari, ayahmu, dan saudara lakilakimu
agar aku menulis sebuah pesan,
sebab aku khawatir akan muncul orang yang berharap lalu berkata: 'Aku lebih berhak.'
Sesungguhnya Allah dan segenap kaum mukminin hanya rela menerima Abu Bakar." (HR.
Muslim)
Kamis, 02 Desember 2010
Asma Binti Umais
Beliau adalah Asma’ binti Ma`d bin Tamim bin Al-Haris bin Ka`ab Bin Malik bin Quhafah, dipanggil dengan nama Ummu Ubdillah. Beliau adalah termasuk salah satu di antara empat akhwat mukminah yang telah mendapat pengesahan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya: “Ada empat akhwat mukminat yaitu Maimunah, Ummu Fadl, Salma dan Asma” .
Beliau masuk Islam sebelum kaum muslimin memasuki rumah al-Arqam. Beliau adalah istri pahlawan di antara sahabat yaitu Ja`far bin Abi Thalib, sahabat yang memiliki dua sayap sebagaimana gelar yang Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam berikan terhadap beliau. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam manakala ingin mengucapkan salam kepada Abdullah bin Ja`far beliau bersabda :
‘Selamat atas kamu wahai putra dari seorang yang memiliki dua sayap (Dzul janahain).”
Asma’ termasuk wanita muhajirah pertama, beliau turut berhijrah bersama suaminya yaitu ja`far bin Abi Thalib menuju Habasyah, beliau merasakan pahit getirnya hidup di pengasingan. Adapun suaminya adalah juru bicara kaum muslimin dalam menghadapi raja Habasyah, an-Najasyi.
Di bumi pengasingan tersebut beliau melahirkan tiga putra yakni Abdullah, Muhammad dan Aunan. Adapun putra beliau yaitu Abdullah sangat mirip dengan ayahnya, sedangkan ayahnya sangat mirip dengan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, sehingga hal itu menggembirakan hati beliau dan menumbuhkan perasaan rindu untuk melihat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ja`far :
“engkau menyerupai bentuk (fisik)-ku dan juga akhlakku.”
Said bin ‘Amir
Kita tentunya tidak banyak mendengar kisah shahabat Nabi SAW yang satu ini. Selain sebagai pribadi yang selalu mengutamakan kebersahajaan dan zuhud, ia memang tidak menyukai publikasi. Tapi dibalik itu ia adalah seorang tentara Allah yang tidak pernah absen dalam semua perjuangan dan jihad yang dihadapi Rasulullah SAW.
Sa’id menganut Islam tidak lama sebelum pembebasan Khaibar. Semenjak itu, curahkan seluruh kehidupannya semata-mata untuk membela Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan dan kepatuhan, zuhud dan keshalihan, keluhuran dan ketinggian, adalah akhlak yang selalu meliputinya.
Kebesaran tokoh ini lebih mendalam dan berurat akar daripada tersembul di permukaan lahir yang kemilau. la jauh tersembunyi di sana , di balik kesederhanaan dan kesahajaannya.
Ketika Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab memecat Mu’awiyah dari jabatannya sebagai kepala daerah di Syria , ia menoleh kiri dan kanan mencari seseorang yang akan menjadi penggantinya. Sistem yang digunakan Umar untuk memilih pegawai dan pembantunya adalah suatu sistem yang mengandung segala kewaspadaan, ketelitian dan pemikiran yang matang, karena ia menaruh keyakinan bahwa setiap kesalahan yang dilakukan oleh setiap penguasa di tempat yang jauh sekali pun, yang akan ditanya oleh Allah swt. ialah dua orang: pertama Umar, dan kedua baru penguasa yang melakukan kesalahan itu. Karenanya syarat-syarat yang dipergunakannya untuk menilai orang dan memilih para pejabat pemerintahan sangat ketat serta didasarkan atas pertimbangan tajam dan sempurna.
Amr Ibnul Jamuh
Ia adalah ipar dari Abdullah bin Ami bin Harem, karena menjadi suami dari saudara perempuan Hindun bintj Amar; Ibnul Jamuh merupakan aalah swrang tokoh penduduk Madinah dan salah seorang pemimpin Bani Salamah….
Ia didahului masuk Islam oleh putranya Mu’adz bin Arnr yang termasuk kelompok 70 peserta bai’at ‘Aqabah. Bersama shahabatnya Mu’adz bin Jabal, Mu’adz bin Amr ini menyebarkan Agama Islam di kalangan penduduk Madinah dengan keberanian luar biasa sebagai layaknya pemuda Mu’min yang gagah perwira….
Telah menjadi kebiasaan bagi golongan bangsawan di Madinah, menyediakan di rumah masing~masing duplikat berhala-berhala besar yang terdapat di-tempat-tempat pemujaan umum yang.dikunjungi oleh orang banyak. Maka sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang bangsawan dan pemimpin Amru bin Jamuh juga mendirikan berhala di rumahnya yang dinamakan Manaf.
Putranya, Mu’adz bin Amr bersama temannya Mu’adz bin Jabal telah bermufakat akan menjadikan berhala di rumah bapaknya itu sebagai barang permainan dan penghinaan. Di waktu malam mereka,menyelinap ke dalam rumah, lain mengambil berhala itu dan membuangya ke dalam Lubang yang biasa digunakan manusia untuk membuang hajatnya.
Ia didahului masuk Islam oleh putranya Mu’adz bin Arnr yang termasuk kelompok 70 peserta bai’at ‘Aqabah. Bersama shahabatnya Mu’adz bin Jabal, Mu’adz bin Amr ini menyebarkan Agama Islam di kalangan penduduk Madinah dengan keberanian luar biasa sebagai layaknya pemuda Mu’min yang gagah perwira….
Telah menjadi kebiasaan bagi golongan bangsawan di Madinah, menyediakan di rumah masing~masing duplikat berhala-berhala besar yang terdapat di-tempat-tempat pemujaan umum yang.dikunjungi oleh orang banyak. Maka sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang bangsawan dan pemimpin Amru bin Jamuh juga mendirikan berhala di rumahnya yang dinamakan Manaf.
Putranya, Mu’adz bin Amr bersama temannya Mu’adz bin Jabal telah bermufakat akan menjadikan berhala di rumah bapaknya itu sebagai barang permainan dan penghinaan. Di waktu malam mereka,menyelinap ke dalam rumah, lain mengambil berhala itu dan membuangya ke dalam Lubang yang biasa digunakan manusia untuk membuang hajatnya.
Zainab radhiyallahu ‘anha binti Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Zainab Putri Rasulullah, Keteladannya Bersetia Kepada Suami
Tak lama setelah pernikahan Muhammad bin Abdillah Al-Hasyimi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dengan Khadijah bintu Khuwailid Az-Zuhri radliyallahu `anha, lahirlah anak pertama bagi pasangan berbahagia ini, seorang putri yang kemudian dinamakan Zainab. Tepatnya peristiwa kelahiran itu terjadi pada sepuluh tahun sebelum diangkatnya sang ayah menjadi Rasulullah (yakni utusan Allah). Ia lahir dalam keluarga yang dibangun oleh pasangan suami istri yang menjadi teladan kemuliaan di kalangan Quraisy, sehingga dalam dirinya mengalir darah kemuliaan ayah bundanya. Dia juga menyaksikan akhlaqul karimah keduanya dalam kehidupan rumah tangga dan dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga tumbuhlah Zainab menjadi gadis kecil yang menarik parasnya serta menakjubkan akhlaqnya bagi keluarga terdekat dan keluarga jauh kalangan Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, bahkan bagi segenap Quraisy.
Diantara orang yang banyak menaruh perhatian kepada si gadis kecil Zainab, adalah seorang remaja bernama Abul Ash Laqith bin Ar-Rabi’ bin Abdis Syams bin Abdi Manaf bin Qushai Al-Qurasyi, yang ibunya bernama Halah bintu Khuwailid Az-Zuhri adik kandung Khadijah.
Langganan:
Postingan (Atom)