Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Maret 2011

Pemuda Langka

Alkisah, ada seorang pemuda yang bekerja sebagai penggembala domba. Jumlah domba yang dia gembalai berjumlah ratusan ekor. Bertahun-tahun dia bekerja tanpa pernah mengeluh meski hasil jerih payahnya tak seberapa.

Suatu ketika, datang seorang musafir yang sangat kehausan setelah menempuh perjalanan jauh. Melihat ada pengembala domba tersebut, gembiralah hati musafir itu. Sang musafir meminta minum kepada si pemuda penggembala tersebut. Namun, pemuda itu menjawab bahwa dirinya tak punya air minum untuk diberikan kepada si musafir.

Musafir tersebut kemudian memohon memelas agar diizinkan mengambil air susu dari seekor domba yang digembalakan si pemuda itu. Pemuda tersebut menolak dengan halus. "Ayolah, saudaraku. Tolonglah aku. Aku sangat haus. Izinkan aku untuk memerah dombamu sekadar beberapa teguk untuk menghilangkan dahagaku," ujar sang musafir. Pemuda itu menjawab, "Domba-domba ini bukan
 kepunyaanku, aku tak berani mengizinkan engkau sebelum majikanku mengizinkannya."

Pemuda mengatakan, "Kalau kau mau, tunggulah di sini sebentar. Kucarikan telaga dan kuambilkan air untukmu, saudaraku." Kemudian, pergilah pemuda tersebut mencarikan air untuk sang musafir. Setelah dapat, diberikannya air itu kepada si musafir. "Alhamdulillah, segar sekali rasanya," kata sang musafir. "Terima kasih wahai anak muda," lanjut musafir itu.

Kemudian, mereka sejenak beristirahat sambil berbagi kisah. Siang semakin terik. "Mengapa kau tadi tidak ikut minum," tanya musafir kepada pemuda tadi. "Maaf, saya sedang berpuasa," jawab si pemuda. Musafir itu tercengang mendengar pengakuan pemuda tersebut. "Matahari semakin tinggi, sedangkan engkau berpuasa?" tanya musafir itu penuh tanya. Pemuda itu menjawab, "Aku berharap kelak mudah-mudahan Allah menaungi diriku pada saat hari kiamat nanti. Karena itu, aku berpuasa."

Rasa kagum dan penasaran membuat si musafir ingin mengetes keimanan sang pemuda penggembala tersebut. Lalu, musafir itu berkata, "Hai anak muda, bolehkah aku membeli seekor saja dombamu. Aku lapar, tolonglah aku."

"Maaf tuan, aku tidak berani sebelum mendapat izin dari majikanku," kata pemuda itu.

"Ayolah anak muda. Domba yang kau gembalakan sangat banyak. Tentulah tuanmu tidak akan mengetahui meski kau jual seekor saja. Perutku sangat lapar, tolonglah aku," rayu musafir tersebut.

"Aku sungguh ingin menolongmu. Kalau saja aku memiliki makanan, tentu akan kuberikan untukmu, tuan. Tapi, tolong jangan paksa aku untuk melakukan hal yang tak mungkin aku lakukan tuan," ucap pemuda tersebut.

"Tidak akan ada yang tahu hai anak muda. Kuberikan seribu dirham untukmu untuk seekor domba saja. Ayolah. Tidakkah kau kasihan kepadaku?" kata musafir itu yakin bahwa pemuda tersebut akan goyah dengan suap seribu dirham.

Musafir itu terus memaksa si pemuda untuk menjual seekor dombanya. Bahkan, musafir itu tambah gusar dan marah.

Akhirnya, pemuda itu berkata, "Majikanku bisa saja tidak tahu jikalau aku menjual seekor dombanya. Sebab, jumlahnya sangat banyak. Dan mungkin saja, majikanku tidak akan menanyakan domba-dombanya. Dia tidak akan rugi meski aku menjual seekor di antara domba kepunyaanya. Tapi, kalau aku berbuat begitu, lalu di mana Allah? Di mana Allah? Di mana Allah? Sungguh, aku tak mau di dalam dagingku tumbuh duri neraka karena uang yang tidak halal bagiku."

Pemuda itu menangis karena takut tergoda berbuat sesuatu yang dimurkai Allah. Dia menangis karena kecintaanya kepada Allah.

Musafir tersebut tertegun. "Allahu akbar!!" musafir itu ikut menangis.

"Katakan padaku wahai anak muda, di mana majikanmu tinggal. Aku ingin membeli seekor dombanya," kata musafir tersebut.

Setelah mendapat jawaban tentang tempat tinggal majikan pemuda tadi, musafir itu memberikan uang seribu dirham tadi kepada si pemuda. "Terimalah uang ini untukmu, anakku. Ini uang halal. Kau pantas mendapatkan lebih daripada ini. Hatimu begitu mulia." Sang musafir yang tak lain adalah Khalifah Umar bin Khattab bergegas menuju ke rumah majikan sang pemuda tadi. Lalu, ditebuslah pemuda itu dengan memerdekakannya dari status hamba sahaya.

Dalam lanjutan perjalanannya, Umar masih takjub dengan kisah yang baru dia alami.

Di mana Allah? Inilah kalimat yang menggetarkan hati Umar. Rasa takut kepada Allah tidak menggoyahkan iman seorang pemuda tadi meski dirayu dengan materi. Duniawi tidak mampu menyilaukan hati pemuda itu karena keteguhan iman yang hakiki.

http://kitabercerita.blogspot.com/2008/03/pemuda-langka.html

posted by raden said

Rabu, 09 Maret 2011

Hudzaifah Ibnul Yaman


Penduduk kota Madinah berduyun-duyun keluar untuk menyambut kedatangan wali negeri mereka yang baru diangkat serta dipilih oleh Amirul Mu’minin Umar radhiyallah ‘anhu.
Mereka pergi menyambutnya, karena lamalah sudah hati mereka rindu untuk bertemu muka dengan shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia ini, yang telah banyak mereka dengar mengenai keshalihan dan ketaqwaannya. Begitu pula tentang jasa-jasanya dalam membebaskan tanah Irak.

Ketika mereka sedang menunggu rombongan yang hendak datang, tiba-tiba muncullah di hadapan mereka seorang laki-laki dengan wajah berseri-seri. Ia mengendarai seekor keledai yang beralaskan kain usang, sedang kedua kakinya teruntai ke bawah, kedua tangannya memegang roti serta garam sedang mulutnya sedang mengunyah
Demi ia berada di tengah-tengah orang banyak dan mereka tahu bahwa orang itu tidak lain adalah Hudzaifah ibnul Yaman, maka mereka jadi bingung dan hampir-hampir tak percaya Tetapi apa yang akan diherankan? Corak kepemimpinan bagaimana yang mereka nantikan sebagai pilihan Umar radhiyallah ‘anhu, Hal itu dapat difahami, karena baik di masa keraiaan Persi yang terkenal itu atau sebelumnya, tak pernah diketahui adanya corak pemimpin semulia ini.

Menuai Tanaman Dunia

Seorang yang dikenal amat kikir, suatu hari sedang duduk di pintu kedainya sambil menikmati
secangkir kopi. Seorang gila menghampirinya dan meminta sedikit wang untuk membeli yoghurt.
Pedagang kikir itu berusaha mengacuhkannya tetapi si gila tetap tak mau pergi dan malah membuat
keramaian.
Orang-orang yang lewat dan melihat hal itu lalu menawarinya wang. Tapi si gila bersikeras bahwa ia
hanya menginginkan wang dari si kikir. Akhirnya, si kikir memberinya sedikit wang receh untuk
membeli yoghurt. Si gila kemudian meminta tambahan wang untuk membeli roti yang akan
dimakannya bersama yoghurt itu. Pedagang kikir itu tentu saja sudah tak boleh membiarkan hal ini, dan
ia tegas-tegas menolaknya.

Kisah Raja dan Budak Hitam

Raja Harun Al-Rasyid, seorang dari keturunan Bani Abbasiyah, memiliki seorang budak perempuan
yang berparas buruk, berkulit hitam, dan tidak enak dipandang mata.
Pada suatu hari, Raja menaburkan wang untuk semua budaknya. Para budak saling berebut dan
berlomba untuk mendapatkan wang tersebut kecuali seorang budak perempuan hitam yang buruk rupa
itu. Ia tetap diam dan hanya memandang wajah Baginda.
Raja merasa amat kehairanan dan bertanya, Mengapa kau diam saja? Ikutlah bersama teman-temanmu
memperebutkan wang.
Budak itu menjawab, Wahai Baginda khalifah, jika semua budak berlomba untuk mendapatkan wang
taburan Baginda, maka yang hamba impikan berbeda dengan mereka. Yang hamba angankan bukan
wang taburan itu tapi yang hamba inginkan adalah sang pemilik wang taburan itu.
Mendengar jawaban budak itu, Raja Harun tercengang dan merasa takjub. Karena rasa kagumnya, ia
jadikan budak itu sebagai permaisurinya.

ASAL-USUL KUMANDANG ADZAN

(Riwayat : Anas r.a; Abu Dawud; Al Bukhari)

Seiring dengan berlalunya waktu, para pemeluk agama Islam yang semula sedikit, bukannya
semakin surut jumlahnya. Betapa hebatnya perjuangan yang harus dihadapi untuk
menegakkan syiar agama ini tidak membuatnya musnah. Kebenaran memang tidak dapat
dmusnahkan.
Semakin hari semakin bertambah banyak saja orang-orang yang menjadi penganutnya.
Demikian pula dengan penduduk dikota Madinah, yang merupakan salah satu pusat penyebaran
agama Islam pada masa-masa awalnya. Sudah sebagian tersebar dari penduduk yang ada
dikota itu sudah menerima Islam sebagai agamanya.
Ketika orang-orang Islam masih sedikit jumlahnya, tidaklah sulit bagi mereka untuk bisa
berkumpul bersama-sama untuk menunaikan sholat berjama` ah. Kini, hal itu tidak mudah lagi
mengingat setiap penduduk tentu mempunyai ragam kesibukan yang tidak sama. Kesibukan
yang tinggi pada setiap orang tentu mempunyai potensi terhadap kealpaan ataupun kelalaian
pada masing-masing orang untuk menunaikan sholat pada waktunya.
Dan tentunya, kalau hal ini dapat terjadi dan kemudian terus-menerus berulang, maka bisa
dipikirkan bagaimana jadinya para pemeluk Islam. Ini adalah satu persoalan yang cukup berat
yang perlu segera dicarikan jalan keluarnya.

Kamis, 24 Februari 2011

Rayuan kain Lap alias Gombal..


"sayang, aku akan selalu setia kepadamu walau apapun yang terjadi, kita akan saling mencintai sehidup semati bla bla bla..."

preeeettttt...

itulah kata2 yang sering terucap pada setiap anak manusia yang lagi jatuh cinta, yang biasa di ucapkan oleh kaum adam kepada kaum hawa, tapi aku rasa itu hanyalah unkapan kemunafikan, emosi sesaat dan sudah menyalahi qodrat.
bagaimana tidak, kalimat itu mengandung beberapa penafsiran yang negatif. mengapa..?? karena :

1. kalimat itu adalah kalimat rayuan gombal ( ngerti gombal kan..? yaitu kain lap yang gunanya untuk membersihkan lantai yang kotor dan kebanyakan tempatnya di bawah, dilantai dan sering kali juga di injak2), apakah gombal itu sangat berarti bagimu..?? 

2.kalimat itu adalah kalimat perangkap, yang digunakan untuk membuai seorang wanita, bila si wanita sudah terbuai dengan kata2nya maka masuklah mereka pada tahap berikutnya dimana mereka menghalalkan berbagai cara untuk mengikuti nafsunya. tidak perduli lagi akan dosa dan neraka, tidak malu bahwa ada malaikat yang melihat dan mencatat perbuatannya bahkan tidak peduli bahwa Allah lah Yang Maha Melihat dan tidak takut akan azab-Nya.


3. kalimat itu hanya luapan emosi sesaat yang dipacu dari syahwat, kalimat nafsu karna ketertarikan seseorang pada seseorang yang kebanyakan ketertarikannya itu berasal dari apa yang dilihat (yaitu fisik seseorang). dan yang namanya nafsu syahwat itu datangnya dari setan yang sedang berkeliling cari member buat teman entar di neraka. yang seharusnya nafsu syahwat itu harus kita tahan dan kalahkan, karna kita tau akibat dari nafsu itu banyak merugikannya ketimbang menguntungkannya.
contoh aja akibat ngikutin kehendak nafsu itu kita bisa lupa kewajiban kita, lalai terhadap amanah yang diberikan pada kita, yang paling parah kalo yang wanita hamil di luar nikah, hemm.....Naudzubillahi jangan sampek deh...

4. kalimat itu musyrik karna sudah mendahuli takdir-Nya yang belom kita ketahui. kita tau bahwa Allah lah Yang Maha Membolak-balikan Hati, jadi bagaimana jika suatu saat nanti hati dari si laki-laki atau si perempuan di alihkan pada insan yang lain (yang katanya mengisi relung hati xixixi...), apakah mereka masih bisa dikatakan setia..?? lalu dimana letak makna setia dari kalimat yang pernah diucapkannya itu tadi..??
dan bagaimana bila salah satu dari mereka dipanggil menghadap pada Yang Maha Kuasa terlebih dahulu, apakah yang satunya juga mau ikut mati juga (pasti gak mau dong hehehe...), lalu dimana letak jaji setia sehidup semati yang pernah diucapkannya tadi..??
kita tidak bisa memastikan sesuatu yang belom kita jalani, karna sesuatu yang belom kita jalani itu adalah rahasia Allah. yang bisa kita pastikan itu cuma 2 hal aja. pertama yaitu apa yang sedang kita kerjakan sekarang atau yang sudah di lalui, kita bisa pastikan bahwa itu adalah bagian dari takdir kita yang sudah terungkap, jadi itu adalah sesuatu yang pasti yang sudah atau yang sedang kita kerjakan. yang kedua yaitu mati, kalo yang ini semuanya pasti sudah tau kan kalo mati itu adalah sesuatu yang pasti, gak perlu di tunggu, tak usah dicari, tak bisa juga dihindari, karna setiap yang bernyawa itu pasti mati, itulah janji Allah, dan janji Allah itu pasti benar.

jadi masikah ada yang mau mengatakan kalimat2 semacam itu, jika masih ada sungguh dia adalah orang yang sangat pemberani atau sangat nekat. cobalah kita berkaca pada diri sendiri, apakah kita tergolong pada orang2 yang Beriman...
semoga Allah mengampuni kita semua atas semua ke kilafan yang pernah kita lakukan dan semoga hari esok bisa kita lalui dengan lebih baik dari hari kemarin, Insya Allah...Aamiin aamiin Ya Robbal Alamin...



by. raden said

Selasa, 08 Februari 2011

Dakwah Khalid bin Walid ra. di medan perang

Menurut Al-Waqidi dan lainnya, mereka berkata: Satu peristiwa, pada
pertempuran Yarmuk, keluarlah dari barisan musuh seorang panglima besar
musyrik, lalu dia menyeru Khalid bin Al-Walid untuk keluar dari barisan
kaum Muslimin. Khalid pun keluar dengan kuda tangkasnya, hingga
hampir-hampir kedua kuda itu berlaga kerana ketangkasannya. Maka
berkatalah panglima pasukan musyrik itu yang bernama Jarjah:

"Engkaukah yang dikenal Khalid, panglima pasukan ini?".

"Ya, aku Khalid pedang Allah!" jawab Khalid.

"Khalid, pedang Allah?" tanya Jarjah lagi.

"Ya", jawab Khalid. "Dan engkau siapa?"

"Aku Jarjah, panglima perang!"

"Apa maksudmu memanggil aku ke sini?" tanya Khalid.

"Hai Khalid! Bicaralah yang benar, dan jangan berdusta! Sebab orang
yang merdeka itu tidak berdusta. Dan jangan pula engkau menipuku,
kerana orang yang berkedudukan seperti engkau ini tidak akan menipu
yang lain, apa lagi bila hal itu ada pertaliannya dengan Allah!" jarjah
ingin menguji kejujuran Khalid.

"Baiklah", jawab Khalid. "Aku akan berkata benar dan menjawab sesuai dengan kehendakmu!"

"Engkau mengaku diri sebagai pedang Allah, bukan?" tanya Jarjah.

"Ya", jawab Khalid pendek

"Apakah Allah telah menurunkan pedang itu dari langit kepada Utusan
kamu, lalu dia menyerahkan pedang itu kepadamu, dan engkau tidak akan
menghunuskan kepada sesiapa pun, melainkan engkau akan mengalahkannya?"
Jarjah meminta penerangan dari Khalid.

ABDULLAH BIN HUDZAFAH AS—SAHMY

“Sepantasnyalah setiap kaum muslimin mencium kepada ‘Abdullah bin Hudzafah.
Nah Aku yang memulai !“ (‘Umar bin Khatbthab).
Pahlawan yang kita kisahkan ini, sahabat Rasulullah saw. bernama: ‘ABDULLAH BIN
HUDZAFAH AS—SAHMY.
Sebelumnya sejarah melewatkannya begitu saja, seperti milyunan orang-orang ‘Arab
lainnya. Tetapi Islamlah yang kemudian menugaskan ‘Abdullah bin Hudzhafah menemui dua
orang raja besar dunia pada zamannya, iaitu Kisra, Maharaja Persia, dan Kaisar Agung, Maharaja
Romawi. Pertemuan ‘Abdullah dengan kedua raja dunia itu abadi dalam sejarah, dan mewarnai
perjalanan sejarah itu sèndiri.
Pertemuan ‘Abdullah bin Hudzafah dengan Kisra, Maharaja Persia, terjadi pada tahun
keenam Hijriyah, iaitu ketika Rasulullah saw. mulai mengembangkan Da’wah Islam ke seluruh
pelosok dunia. Ketika itu beliau berda’wah melalui surat kepada raja-raja ‘Ajam (non Arab),
mengajak mereka masuk Islam.
11
Rasullulah saw. telah memperhitungkan resiko yang mungkin timbul dalam pekerjaan
penting ini. Para utusan akan diberangkatkan ke negeri-negeri. asing yang belum mereka kenal
selama ini. Mereka tidak paham bahasa negeri-negeri yang mereka tuju, belum mengenal selukbeluk
pemerintahan, sosial, dan budayanya. Tetapi mereka harus pergi ke sana mengajak rajaraja
asing itu meninggalkan agama mereka semula dan agar mereka menanggalkan kemegahan
dan kekuasaaan mereka, untuk tunduk kepada agama Islam yang dianut oleh suatu bangsa yang
kemaren menjadi rakyat taklukan mereka.
Memang suatu tugas yang berat dan berbahaya. Pergi ke sana berarti hilang. Kalau toh
bisa kembali, berarti suatu kelahiran baru. Kerana itu Rasulullah saw. mengum pulkan para
sahabat, kemudian beliau berpidato dihadapan mereka.
Seperti biasa, mula-mula Rasulullah saw. memuji Allah swt. dan membaca tasyahhud.
Sesudah itu beliau berkata:

ABDULLAH BIN MAS’UD RA.

Sabda Rasulullah Saw., “Siapa yang ingin membaca AJ Qur’an dengan baik seperti
diturunkan Allah, bacalah seperti bacaan lbnu Ummi ‘Abd (‘Abdullab bin Mas’ud)
36
Pada suatu hari, seorang anak gembala yang hampir baligh menghalau domba-domba
gembalaannya di jalan jalan kedil perbukitan kota Makkah, jauh dan keramaian. Dia
mengembalakan domba-domba kepunyaan seorang bangsawan Quraisy, ‘Uqbah bin Mu’aith.
Orang memanggil nama anak itu ‘Ibnu Ummi ‘Abd” Sesungguhnya namanya yang asli
“ABDULLAH” dan nama bapaknya “MAS’UD”. Nama lengkapnya “ABDUL LAH BIN
MAS’AD” -
Anak gembala itu pernah juga mendengar berita berita mengenai Nabi yang baru diutus,
serta da’wah yang dilancarkannya. Tetapi gembala kecil ini tidak mem pedulikannya. Mungkin
kerana usianya yang masih kecil, dan kerana jauhnya dan masyarakat Makkah, tempat
dimulainya da’wah tersebut.
Anak gembala ini rajin menggembalakan domba-domba majikannya. Pagi-pagi sekali
dia sudah berangkat bersama domba ke tempat gembala, dan pulang setelah hri senja.
Hari itu, anak tersebut melihat di kejauhan dua orang laki-laki menuju ke arahnya.

Kamis, 03 Februari 2011

Anas bin Malik ra.

Anas bin Malik sejak usia belianya telah mendapat talqin dua syahadat dari ibunya Al ghumaisho’, sejak itu tumbuhlah kecintaan hatinya yang bersih kepada Rasul SAW, bersemangat untuk mendengar langsung darinya, tidak heran kalau kadang telinga lebih awal merindukan dari pada penglihatan. Sudah lama anak kecil ini mendambakan bertemu langsung dengan Rasul di Mekah atau di Yatsrib sehingga ia dapat bahagia dengan pertemuannya.
Tidak berselang waktu yang lama, Yatsrib dibahagiakan oleh kedatangan Rasulullah dan sahabatnya As Siddiq yang sudah lama di damba-dambakan. Maka tidak satu pun keluarga dan hati penduduk Madinah yang tidak berbahagia. Saat itu semua pemuda menyebarkan berita setiap pagi bahwa Rasulullah SAW akan tiba di Yatsrib. Anas bin Malik bersama anak-anak yang lain yang berusaha ingin bertemu dengan Rasulullah, namun ketika belum berhasil menemuinya ia sedih.

Kisah Sa'id Al Harits dan Al Khalidah

  Rafi' bin Ubaidullah berkata, "Hisyam bin Yahya Al khanani berkata kepadaku, 'Aku ingin mengisahkan kepadamu sebuah peristiwa yang aku saksikan sendiri, dan Alloh menjadikan peristiwa itu berguna bagiku. Mudah mudahan Alloh juga menjadikannya berguna bagimu.' Aku berkata, 'Wahai Abu Al Walid (panggilan Hisyam bin Yahya), ceritakanlah peristiwa itu kepadaku!.
   "Dia berkata, 'Aku ikut serta dalam perang melawan Romawi pada 38 H. Bersama kami ada Maslamah bin 'Abdul Malik dan Abdulloh bin Al Walid bin Abdul Malik. Dalam pernang ini Al-Thuwanah ditaklukkan atas izin Alloh Azza Wajalla. Kami ditempatkan bersama pasukan dari Basrah dan Al Jazirah di suatu tempat. Kami bergantian dalam melakukan pelayanan dan penjagaan, dan menyiapkan perbekalan dan makanan ternak. bersama kami juga ada seseorang bernama Sa'id bin Al Harits, orang yang rajin beribadah, termasuk puasa dan sholat malam. Kami ingin meringankan pekerjaannya ketika dia mendapatkan giliran, tetapi dia menolak. Dia tetap menjalankan tugasnya tanpa mengurangi ibadahnya sedikitpun.

Rabu, 22 Desember 2010

Al-Hasan Al-Bashri

Datanglah seorang pembawa khabar gembira untuk menyampaikan berita gembira kepada istri Nabi Ummu Salamah, bahwa budak perempuannya “Khairah” telah melahirkan anak laki-laki.
Maka berbunga-bungalah hati Ibu kaum mu’minin RA, dan kegembiraan itu telah membuat wajahnya yang cakap dan wibawa bersinar-sinar.
Beliau segera mengutus utusan supaya ibu dan anaknya dibawa kepadanya untuk mengisi waktu nifas di rumahnya.

Waktu itu Khairah sangat dimuliakan dan dicintai oleh Ummu Salamah. Beliau ingin segera melihat anak yang baru lahir. Tidak lama kemudian datanglah Khairah dengan menggendong anaknya.
Ketika kedua mata Ummu Salamah melihat anak bayi ini, hatinya merasa sayang dan lega. Anak kecil yang baru lahir sangat tampan dan ganteng, jauh pandangannya, sempurna ciptaannya, menyenangkan orang yang melihatnya dan memikat orang yang memandangnya.
Kemudian Ummu Salamah mengarahkan pandangannya ke arah budak perempuannya dan berkata, “Apakah kamu telah memberinya nama, wahai Khairah?”
Khairah menjawab, “Belum wahai Ibu. Masalah nama saya serahkan kepada engkau, supaya engkau memilih nama yang engkau sukai.”

Muhammad Al-Hanafiyah bin Ali bin Abi Thalib


 Suatu ketika terjadi perselisihan dan menyebabkan saling menjauh antara Muhammad Al-Hanafiyah dengan kakaknya Hasan bin Ali. Kemudina Muhammad Al-Hanafiyah menulis surat kepada Hasan sebagai berikut:

“Sesungguhnya Allah memberikan keutamaan kepada Anda melebihi diriku. Ibumu adalah Fathimah binti Muhammad bin Abdillah, sedangkan ibuku adalah wanita dari Bani Hanifah. Kakekmu dari jalur ibu adalah Rasulullah pilihan-Nya, sedang kakekku dari jalur ibu adalah Ja’far bin Qais. Jika suratku ini sampai kepada Anda, saya berhara Anda berkenan datang kemari dan berdamai, agar Anda tetapi lebih utama dariku dalam segala hal…” sesampainya surat tersebut, Hasan bergegas mendatangi rumahnya untuk menjalin perdamaian.

Siapakah gerakan pemuda yang santun, cerdas dan bijak yang bernama Muhammad Al-Hanafiyah ini? Marilah kita ikuti perjalanan hidupnya dari awal.

Kita awali kisah ini dari detik-detik akhir kehidupan Rasulullah saw. Suatu hari, Ali bin Abi Thalib duduk bersama Rasulullah saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya saya punya anak lagi setelah Anda tiada, bolehkah saya memberi nama anakku dengan nama Anda dan saya berikan kunyah (julukan) dengan kunyah Anda (yakni Abu Al-Qasim)?” Nabi bersabda, “Boleh.”

Sabtu, 11 Desember 2010

Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar

Sudahkah datang kepadamu berita tentang tabi’i yang mulia ini?
Ia adalah seorang pemuda yang telah mengumpulkan kemuliaan dari seluruh ujungnya, hingga tidak ada yang terlewatkan olehnya sedikitpun…
Ayahnya adalah Muhammad ibn Abi Bakar ash-Shiddiq…
Ibunya adalah putri Kaisar “Yazdajurda” raja Persia yang terakhir…
Bibinya adalah ‘Aisyah ummul mukminin…

Di atas itu semua, ia telah memasang mahkota takwa dan ilmu di atas kepalanya.
Apakah kamu mengira bahwa di atas kemuliaan ini ada kemuliaan lain yang orang-orang saling berlomba-lomba untuk mendapatkannya?
Dialah al-Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakar ash-Shiddiq, satu dari tujuh ahli fiqih kota Madinah (al-Fuqaha’ as-Sab’ah)*…Penduduk zamannya yang paling afdlol dalam hal ilmu…paling tajam akalnya dan paling wara’.
Maka, marilah kita mulai kisah kehidupannya dari awal.
Al-Qasim ibn Muhammad dilahirkan pada akhir-akhir dari kekhalifahan Utsman ibn Affan RA…akan tetapi belum lagi anak kecil ini mampu berjalan di sarangnya sehingga angin fitnah yang kencang berhembus di tengah-tengah kaum muslimin.
Maka, syahidlah khalifah yang ahli ibadah lagi zuhud yaitu Dzunnurrain sedangkan tulang sulbinya condong ke depan mendekap al-Qur`an.

‘Abdullah Ibnu Ummi Maktum Radhiyallahu ‘anhu

Abdullah bin Umar bin Syuraikh, seorang sahabat asal Quraisy ini termasuk peserta hijrah ke Madinah rombongan pertama. Beliau sampai di Madinah sebelum kedatangan Rasulullah Shalalahu ‘alaihi Wassalam. Beliau meninggal dalam perang Qadisiah membawahi sebuah brigade.

‘Abdullah bin Ummi Maktum, orang mekah suku Quraisy. Dia mempunyai ikatan keluarga dengan Rasululah Shalalahu ‘alaihi Wassalam. Yaitu anak paman Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid Ridhwanullah ‘Alaiha. Bapaknya Qais bin Zaid, dan ibunya ‘Atikah binti ‘Abdullah. Ibunya bergelar “Umi Maktum” karena anaknya ‘Abdullah lahir dalam keadaan buta total.
‘Abdullah bin Ummi Maktum menyaksikan ketika cahaya Islam mulai memancar di Makkah. Allah melapangkan dadanya menerima agama baru itu. Karena itu tidak diragukan lagi dia tidak termasuk kelompok yang pertama-tama masuk Islam. Sebagai muslim kelompok pertama, ‘Abdullah turut menanggung segala macam suka duka kaum muslimin di Makkah ketika itu. Dia turut menderita siksaan kaum Quraisy seperti diderita kawan kawannya seagama, berupa penganiayaan dan berbagai macam tindakan kekerasan lainnya. Tetapi apakah karena tindakan-tindakan kekerasan itu Ibnu ummi Maktum menyerah? Tidak……! Dia tidak pernah mundur dan tidak lemah iman. Bahkan dia semakin teguh berpegang pada ajaran Islam dan Kitabullah. Dia semakin rajin memepelajari syariat Islam dan seringh mendatangi majelis Rasulullah.

Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu

Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu, jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan dia akan mengampuni kamu. Dan, Allah Maha Pemgampun lagi Maha Penyayang”. (Q.,s. al-Anfaal : 70)

Menurut beberapa orang ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abbas bin Abdul Muththalib, Aqil bin Abdul Muththalib dan Naufal ibnu al-Harits.
Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu
Ia adalah paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salah seorang yang paling akrab dihatinya dan yang paling dicintainya. Karena itu, beliau senantiasa berkata menegaskan, “Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakiti Abbas sama dengan menyakitiku.”
Di zaman Jahiliah, ia mengurus kemakmuran Masjidil Haram dan melayani minuman para jamaah haji. Seperti halnya ia akrab di hati Rasulullah, Rasulullah pun dekat sekali di hatinya. Ia pemah menjadi pembantu dan penasihat utamanya dalam bai’at al-Aqabah menghadapi kaum Anshar dari Madinah.

Rabu, 08 Desember 2010

Kisah Nabi Ismail A.S

Sampai Nabi Ibrahim yang berhijrah meninggalkan Mesir bersama Sarah, isterinya dan Hajar, dayangnya di tempat tujuannya di Palestin. Ia telah membawa pindah juga semua binatang ternaknya dan harta miliknya yang telah diperolehinya sebagai hasil usaha niaganya di Mesir. Al-Bukhari meriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a.berkata: Pertama-tama yang menggunakan setagi {setagen} ialah Hajar ibu Nabi Ismail tujuan untuk menyembunyikan kandungannya dari Siti Sarah yang telah lama berkumpul dengan Nabi Ibrahim a.s. tetapi belum juga hamil. tetapi walaubagaimana pun juga akhirnya terbukalah rahsia yang disembunyikan itu dengan lahirnya Nabi Ismail a.s. Dan sebagai lazimnya seorang isteri sebagai Siti Sarah merasa telah dikalahkan oleh Siti Hajar sebagai seorang dayangnya yang diberikan kepada Nabi Ibrahim a.s. Dan sejak itulah Siti Sarah merasakan bahawa Nabi Ibrahim a.s. lebih banyak mendekati Hajar karena merasa sgt gembira dengan puteranya yang tunggal dan pertama itu, hal ini yang menyebabkan permulaan ada keratakan dalam rumahtangga Nabi Ibrahim a.s. sehingga Siti Sarah merasa tidak tahan hati jika melihat Siti Hajar dan minta pada Nabi Ibrahim a.s. supaya menjauhkannya dari matanya dan menempatkannya di lain tempat. . Utk sesuatu hikmah yang belum diketahui dan disadari oleh Nabi Ibrahim Allah s.w.t. mewahyukan kepadanya agar keinginan dan permintaan Sarah isterinya dipenuhi dan dijauhkanlah Ismail bersama Hajar ibunya dan Sarah ke suatu tempat di mana yang ia akan tuju dan di mana Ismail puteranya bersama ibunya akan di tempatkan dan kepada siapa akan ditinggalkan. Maka dengan tawakkal kepada Allah berangkatlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah membawa Hajar dan Ismail yang diboncengkan di atas untanya tanpa tempat tujuan yang tertentu. Ia hanya berserah diri kepada Allah yang akan memberi arah kepada binatang tunggangannya. Dan berjalanlah unta Nabi Ibrahim dengan tiga hamba Allah yang berada di atas punggungnya keluar kota masuk ke lautan pasir dan padang terbuka di mana terik matahari dengan pedihnya menyengat tubuh dan angin yang kencang menghembur-hamburkan debu-debu pasir.

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a.

Setelah memegang urusan kaum muslimin, menjadi seorang Khalifah, kegemarannya itu
berubah menjadi kewajiban. Ia pernah berkata: "Apakah aku harus merasa puas disebut Amirul
Mukminin, sedangkan aku tidak menyertai kaum mukminin dalam masa kesusahan? Demi Allah,
seandainya aku mau, aku dapat memperoleh madu murni, gandum pilihan dan pakaian serba
halus. Tetapi, jauh nian aku bisa dikalahkan oleh hawa nafsu! Aku tidak sudi kekenyangan,
sedang di sekitarku banyak perut kelaparan, menderita dan sengsara."
Rasul Allah s.a.w. pernah mengatakan, bahwa kemiskinan mendekatkan orang kepada
kekufuran. Bertolak dari sini pulalah Imam Ali bin Abi Thalib r.a. muncul dengan sebuah
kalimat cemerlang: "Seandainya kemiskinan itu berupa orang, tentu ia sudah kubunuh!"
Sungguhpun Imam Ali bin Abi Thalib r.a. sudah meninggal dunia, namun ia senantiasa hidup
dalam semua nilai-nilai kebenaran yang diperjuangkannya sepanjang umur. Ia tetap akan hidup
182
sebagai tauladan...
download Ebooknya disini


posted by raden said

Jumat, 03 Desember 2010

Hafsah binti Umar bin Khathab

Beliau adalah Hafsah putri dari Umar bin Khathab, seorang shahabat agung yang melalui perantara beliau-lah Islam memiliki wibawa. Hafshah adalah seorang wanita yang masih muda dan berparas cantik, bertaqwa dan wanita yang disegani.
Pada mulanya beliau dinikahi salah seorang shahabat yang mulia bernama Khunais bin Khudzafah bin Qais As-Sahmi Al-Quraisy yang pernah berhijrah dua kali, ikut dalam perang Badar dan perang Uhud namun setelah itu beliau wafat di negeri hijrah karena sakit yang beliau alami waktu perang Uhud. Beliau meninggalkan seorang janda yang masih muda dan bertaqwa yakni Hafshah yang ketika itu masih berumur 18 tahun.

Umar benar-benar merasakan gelisah dengan adanya keadaan putrinya yang menjanda dalam keadaan masih muda dan beliau masih merasakan kesedihan dengan wafatnya menantunya yang dia adalah seorang muhajir dan mujahid. Beliau mulai merasakan kesedihan setiap kali masuk rumah melihat putrinya dalam keadaan berduka. Setelah berfikir panjang maka Umar berkesimpulan untuk mencarikan suami untuk putrinya sehingga dia dapat bergaul dengannya dan agar kebahagiaan yang telah hilang tatkala dia menjadi seorang istri selama kurang lebih enam bulan dapat kembali.

Imam Syafi’i Sang Pembela Sunnah dan Hadits Nabi


Beliau bernama Muhammad dengan kunyah Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-’Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau, yaitu Hasyim bin al-Muththalib.
Bapak beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah (Sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di ‘Asqalan (Kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana. Syafi’, kakek dari kakek beliau, -yang namanya menjadi sumber penisbatan beliau (Syafi’i)- menurut sebagian ulama adalah seorang sahabat shigar (yunior) Nabi. As-Saib, bapak Syafi’, sendiri termasuk sahabat kibar (senior) yang memiliki kemiripan fisik dengan Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam. Dia termasuk dalam barisan tokoh musyrikin Quraysy dalam Perang Badar. Ketika itu dia tertawan lalu menebus sendiri dirinya dan menyatakan masuk Islam.
Para ahli sejarah dan ulama nasab serta ahli hadits bersepakat bahwa Imam Syafi’i berasal dari keturunan Arab murni. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memberi kesaksian mereka akan kevalidan nasabnya tersebut dan ketersambungannya dengan nasab Nabi, kemudian mereka membantah pendapat-pendapat sekelompok orang dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah yang menyatakan bahwa Imam Syafi’i bukanlah asli keturunan Quraysy secara nasab, tetapi hanya keturunan secara wala’ saja. Adapun ibu beliau, terdapat perbedaan pendapat tentang jati dirinya. Beberapa pendapat mengatakan dia masih keturunan al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, sedangkan yang lain menyebutkan seorang wanita dari kabilah Azadiyah yang memiliki kunyahUmmu Habibah. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ibu Imam Syafi’i adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukan istinbath.