Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Maret 2011

Pesan untuk ku dan untuk mu.


  1. Ingatlah, Tuhan mu akan memberi ampun bagi orang yang memohon ampun, akan menerima tobat bagi orang yang bertobat, dan menerima orang yang kembali kejalan-Nya.
  2. Kasihanilah orang-orang yang lemah, niscaya kamu akan bahagia. Berilah orang-orang yang membutuhkan pertolongan, niscaya kamu akan merasa puas, redamlah emosi anda, niscaya anda akan selamat.
  3. Bersikaplah optimis, maka Allah akan bersama mu, para Malaikat akan memohonkan ampun buat mu, dan surga siap menanti kedatangan mu.
  4. Hapuslah air mata mu dengan sikap berbaik sangka kepada Allah, Tuhan mu. Usirlah semua kesusahan dan kesedihan mu dengan mengingat nikmat-nikmat Allah yang telah dilimpahkan Allah kepada mu.
  5. Jangan kamu mengira bahwa dunia diciptakan untuk melayani seseorang secara lengkap, karna pada hakikatnya tiada seorangpun di bumi ini yang akan mendapatkan semua yang di inginkannyadan terbebas dari segala macam kekeruhan.
  6. Jadilkanlah diri mu seperti pohon kurma yang menjulang tinggi dengan cita-citanya dan jauh dari gangguan yang membahayakan, jika kamu melemparinya dengan batu, ia akan membalasnya dengan buahnya yang masak.
  7. Pernahkah kamu mendengar bahwa kesedihan itu bisa mengembalikan apa yang sudah lewat dan kesusahan dapat memperbaiki kesalahan ? Kalau begitu, tidak ada gunanya kamu bersedih dan bersusah hati.
  8. Jangan kamu menunggu datangnya bencana dan fitnah, tetapi tunggulah datangnya keamanan, kedamaian dan kesehatan, Insya Allah.
  9. Padamkanlah api kedengkian yang membakar dada mu dengan memberikan pemaafan yang menyeluruh terhadap setiap orang yang pernah berbuat jahat terhadap dirimu.
  10. Mandi, wudhu, memakai wewangian, membersihkan gigi, dan merapikan diri, merupakan obat yang mujarab untuk menyembuhkan semua kekeruhan dan kesempitan.
  11. Jadilah kamu seperti lebah yang hinggap diatas bebungaan yang harum dan ranting-ranting yang segar.
  12. Jangan memberi kesempatan pada diri anda untuk menyelidiki kelemahan orang lain dan mencari-cari kesalahan mereka.
  13. Jika Allah selalu beserta mu, mengapa kamu merasa takut selain kepada-Nya ? apabila Allah menguji mu, siapa lagi yang dapat anda harapkan selain dari pertolongan-Nya ?
  14. Api kedengkian itu akan membakar tubuh pelakunya sendiri dan cemburu itu bagaikan api yang berkobar kemana-mana.
  15. Jika kamu tidak mempersiapkan diri sejak hari ini, maka esok hari bukan menjadi milik mu.
  16. Beranjaklah dengan damai dari tempat-tempat pertemuan dan perdebatan yang mengandung hal-hal yang tiada gunanya.
  17. Jadilah diri mu lebih cantik/tampan dan lebih indah dari pada kebun yang berbunga berkat akhlaq dan pekerti mu.
  18. Berikanlah kebajikan, niscaya anda akan menjadi manusia yang paling bahagia.
  19. Serahkanlah urusan makhluk kepada Khaliqnya, orang dengki kepada kematian, dan musuh kepada kelupaan.
  20. Nikmat yang diharamkan sesudahnya akan diiringi dengan penyesalan, kekecewaan dan siksaan.


sumber : buku " Jadilah wanita yang paling bahagia" dengan penambahan dan pengurangan seperlunya.... :D
raden said

Sabtu, 12 Maret 2011

Untukmu Hai Mukminah...

Selamat untuk anda, karena anda wanita yang sholat, puasa, taat, lagi patuh.
Selamat untuk anda, karena anda wanita yang berhijab, pemalu, anggun lagi berkepribadian kokoh.
Selamat untuk anda, karena anda wanita yang berpendidikan, gemar membaca, sadar, lagi mempunyai petunjuk yang benar.
Selamat untuk anda, karena anda seorang wanita yang setia, terpercaya, jujur, dan suka berberma.
Selamat untuk anda, karena anda wanita yang penyabar, selalu berharap akan pahala Allah, bertaubat, dam senantiasa kembali kejalan-Nya.
Selamat untuk anda, karena anda seorang wanita yang banyak berdzikir, bersyukur, berdoa, dan penuh kesadaran.
Selamat untuk anda, karena anda wanita yang mengikuti jejak Asiah, Maryam, dan Khadijah.
Selamat untuk anda, karena anda adalah wanita yang mendidik calon-calon pahlawan dan mencetak calon-calon tokoh yang terkemuka.
Selamat untuk anda, karena anda adalah wanita yang memelihara norma-norma etika lagi memelihara idealism yang tinggi.
Selamat untuk anda, karena anda adalah wanita yang membela hal-hal yang disucikan dan jauh dari hal-hal yang diharamkan.

Jumat, 11 Maret 2011

Keutamaan Menyan tuni anak Yatim


Segala puji bagi Alloh Ta’ala Yang Meng aruniakan rezeki tanpa batas, Yang Maha Pemurah lagi Maha Pem beri. Sholawat dan salam semoga dilim pahkan kepada Nabi Muham mad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, kerabat, sahabat, dan pengikut nya yang setia hingga hari kiamat

Amma ba’du.
Saudaraku!
Siapakah yang meng inginkan per pisahan?, namun itulah kenyataan
Siapakah yang meng inginkan kematian?, tapi ia adalah kepastian
Siapakah yang meng inginkan belas kasihan? , itulah keniscayaan
Siapakah yang meng inkan pen deritaan? , namun demikianlah kehidupan
Aku ingin bahagia ?
Aku ingin masuk surga?
Aku men cinta dan dicinta
Jika demikian, inilah jawabannya

Sesung guh nya, anak yatim adalah manusia yang paling mem butuhkan per tolongan dan kasih sayang. Karena ia adalah anak yang kehilangan ayah nya pada saat ia sangat mem butuh kan nya. Ia mem­butuhkan per tolongan dan kasih sayang kita, karena ia tidak mung kin men dapatkan kasih sayang ayah nya yang telah tiada.
Jika anda melihat seseorang yang penyayang kepada anak-anak yatim dan menyan tuni mereka, maka ketahuilah bahwa ia adalah:

1. seorang yang ber budi dan ber akh lak mulia.
Suatu ketika Saib bin Abdulloh rodhiyallohu ‘anhu datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, maka Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam ber sabda kepadanya :
ياَ سَائِبُ انْظُرْ أَخْلاَقَكَ الَّتِيْ كُنْتَ تَصْنَعُهَا فِيْ الجْاَهِلِيَّةِ فَاجْعَلْهَا فِيْ اْلإِسْلاَمِ. أَقْرِ الضَّيْفَ و أَكْرِمِ الْيَتِيْمَ وَ أَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ
“Wahai Saib, per hatikanlah akh lak yang biasa kamu lakukan ketika kamu masih dalam kejahiliyahan, lak­sanakan pula ia dalam masa keis laman. Jamulah tamu, muliakanlah anak yatim, dan ber buat baiklah kepada tetangga.” [HR.Ahmad dan Abu Dawud, Shohih Abu Dawud, Al-Albani : 4836]
Dalam sebuah atsar disebutkan riwayat dari Daud ‘alaihis salam, yang berkata :
كُنْ لِلْيََتِيْمِ كَاْلأَبِ الرَّحِيْمِ
“Ber sikaplah kepada anak yatim, seperti seorang bapak yang penyayang.” [HR. Bukhori]

Mutiara Hikmah Dari Kalam Imam Ali AS (KW)

Ø  Permulaan kebaikan dipandang ringan, tetapi akhirnya dipandang berat. Hampir-hampir saja pada permulaannya dianggap sekadar menuruti khayalan, bukan pikiran; tetapi pada akhirnya dianggap sebagai buah pikiran, bukan khayalan. Oleh karena itu, dikatakan bahwa memelihara pekerjaan lebih berat dari pada memulainya

Ø  Memulai pekerjaan adalah sunnah, sedangkan memeliharanya adalah wajib
Ø  Jika engkau ingin mengetahui watak seseorang, maka ajaklah dia bertukar pikiran dengan mu. Sebab, dengan bertukar pikiran itu, engkau akan mengetahui kadar keadilan dan ketidakadilannya, kebaikan dan keburukannya
Ø  Duduklah bersama orang-orang bijak, baik mereka itu musuh atau kawan. Sebab, akal bertemu dengan akal
Ø  Sebaik-baik kehidupan adalah yang tidak menguasaimu dan tidak pula mengalihkan perhatiaanmu (dari mengingat Allah SWT)
Ø  Tanyailah hati tentang segala perkara karena sesungguhnya ia adalah saksi yang tidak akan menerima suap
Ø  Kecemburuan seorang wanita adalah kekufuran, sedangkan kecemburuan seorang laki-laki adalah keimanan.
Ø  Berbicaralah, niscaya kalian akan dikenal karena sesungguhnya seseorang tersembunyi dibawah lidahnya
Ø  Sesungguhnya hati memiliki keinginan, kepedulian, dan keengganan. Maka, datangilah ia dari arah kesenangan dan kepeduliaannya. Sebab, jika hati itu dipaksakan, ia akan buta
Ø  Tidak ada kenikmatan di dunia ini yang lebih besar dari pada panjang umur dan badan yang sehat
Ø  Sesungguhnya wanita (sanggup) menyembunyikan cinta selama empat puluh tahun, namun tidak (sangup) menyembunyikan kebenciaan walau hanya sesaat.

Shalat sunat rawatib adalah shalat yang mengiringi shalat fardhu lima waktu dalam sehari bisa dikerjakan sebelum dan sesudahnya. Tata cara pelaksanaan shalat sunat rawatib dapat dikerjakan sendiri-sendiri tidak berjama’ah, mengambil tempat shalat yang berbeda dengan tempat melakukan shalat fardhu, dilakukan dua rakaat dengan satu salam, dan tidak diawali dengan azan maupun qomat. Shalat sunat rawatib bisa berfungsi untuk menambah dan menyempurnakan kekurangan dari shalat fardhu. 

Adapun jumlah rakaat dan waktunya berdasarkan tinjauan lima mazhab sebagai berikut:
1.    Mazhab Syafi’iyyah
      1.1.    Dua rakaat sebelum Subuh.
      1.2.    Dua rakaat sebelum Dzuhur.
      1.3.    Dua rakaat sesudah Dzuhur.
      1.4.    Dua rakaat sesudah Magrib.
      1.5.    Dua rakaat sesudah Isya’.
      1.6.    Satu rakaat witir.

2.    Mazhab Malikiyah
      2.1.    Tidak ada batas baik sebelum atau sesudah shalat fardhu.
      2.2.    Yang utama yaitu:
                2.2.1.    Empat rakaat sebelum Dzuhur.
                2.2.2.    Enam rakaat sesudah Maghrib.

3.    Mazhab Hambaliyah
       3.1.    Dua rakaat sebelum Subuh.
       3.2.    Dua rakaat sebelum Dzuhur.
       3.3.    Dua rakaat sesudah Dzuhur.
       3.4.    Dua rakaat sesudah Maghrib.
       3.5.    Dua rakaat sesudah Isya’.

4.    Mazhab Hanafiyah
       Mazhab Hanafiyah membagi shalat sunnat  menjadi sbb:
       4.1.    Shalat Sunnat Masnunah adalah shalat sunnat yang banyak
                 dikerjakan oleh Nabi dan Khulafa al-Rasyidin yang terdiri dari:
                4.1.1.    Dua rakaat sebelum Subuh.
                4.1.2.    Empat rakaat sebelum Dzuhur.
                4.1.3.    Dua rakaat sesudah Dzuhur kecuali waktu Jum’at.
                4.1.4.    Dua rakaat sesudah Maghrib.
                4.1.5.     Dua rakaat sesudah Isya’.
      4.2.    Shalat Sunnat Mandubah adalah shalat sunnat yang
                diperintahkan oleh Nabi namun jarang dikerjakan oleh Nabi
                yang terdiri dari:





sumber : http://rumahsantri.multiply.com/
posted by raden said

Kunci Ikhlas


Salah satu tujuan utama dalam beramal adalah mendapat pahala dari Allah ta’alla, lantas bagaimana jika amalan yang sangat diharapkan sebagai tabungan di akherat ternyata ‘kopong’ alias sia-sia dan tak tertulis sabagai amalan?
Bagaimana mungkin amalan akan diterima tatkala kita tidak mengetahui cara agar amalan bisa diterima dan mendapat ridho dari Allah? Apalagi jika barometer kesuksesan dalam beramal tatkala mendapat pujian belaka. Tak dapat diragukan lagi walaupun lisan ini mengatakan ‘Aku ikhlas’ namun ikhlas tak semudah hanya ucapan saja dan malahan perlu dicek lagi arti keikhlasannya. Baiklah marilah kita berusaha mengetahui kaidah-kaidah dalam beramal agar amalan kita tidak sia-sia. Dan ingatlah tak ada satu detik waktupun menjadi sia-sia dan berakhir penyesalan jika segera diikuti dengan taubat dan membenahi cara beramal dengan benar.
Amalan tidak lepas dari 2 hal yaitu ikhlas dan ittiba’.
  1. Ikhlas adalah niat dalam beramal, dan ikhlas merupakan ruh bagi amalan. Dalilnya,“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niat dan sesungguhnya setiap orang itu mendapatkan balasan sesuai dengan yang diniatkannya.” (Muttafaqun’alaihi)
  2. Yang kedua adalah ittiba’. Iittiba’ adalah amalan hendaknya dilakukan sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ittiba’ ini laksana jiwa bagi amalan. Allah ta’ala berfirman,“Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali Imran:31)
Kedua syarat tersebut jangan sampai tercecer, karena jika salah satu syarat hilang maka ia tidak benar (bukan amal shalih) dan tidak akan diterima di sisi Allah, di antara dalil yang memperkuat pernyataan tersebut,
“…Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (Qs. AL Kahfi: 110)

Senin, 03 Januari 2011

Menebar Salam.

Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam: “Manakah ajaran Islam yang lebih baik?” Rasul shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Hendaklah engkau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak.” (HR Bukhary)

Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Kamu sekalian tidak
akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman
sebelum saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang
apabila kamu kerjakan niscaya kamu sekalian akan saling mencintai?
Yaitu sebarkanlah salam diantaramu sekalian." (HR. Muslim)

Nasehat Para Sahabat Radhiallahu 'Anhu

Ali bin Abi Thalib berkata:
"Janganlah melelahkan hatimu, carilah kata-kata hikmah, karena hati itu akan merasa bosan sebagaimana badan merasa bosan.
Jiwa itu selalu mementingkan hawa nafsu, menyukai sesuatu yang hina, condong kepada yang sia-sia, selalu menyuruh kepada keburukan, suka bermalas-malasan, mencari kesenangan, dan lari dari beramal. Jika engkau paksa jiwamu, berarti engkau telah menegakkannya, dan jika engkau melalaikan jiwamu, maka engkau telah merusaknya". (AL 'Aqdul Fariid 6/393). 

Dikatakan kepada Ali bin Abi Thalib:
"Sifatkan dunia kepada kami".
Beliau berkata:
"Apa yang akan aku sifatkan dari negeri yang awalnya kelelahan dan
akhirnya fana (kehancuran),
halalnya adalah hisab dan
haramnya adalah adzab,
orang yang merasa cukup dengannya akan terfitnah, dan
orang yang mengejarnya akan sedih".
(Jami' bayanil 'Ilmi wa Fadllihi 1/176).

Sabtu, 25 Desember 2010

Ketahui Balasan Meninggalkan SHolat


Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah S.A.W sedang duduk bersama para sahabat, kemudian datang pemuda Arab masuk ke dalam masjid dengan menangis.


Apabila Rasulullah S..A.W melihat pemuda itu menangis maka baginda pun berkata, "Wahai orang muda kenapa kamu menangis?"Maka berkata orang muda itu, "Ya Rasulullah S.A.W, ayah saya telah meninggal dunia dan tidak ada kain kafan dan tidak ada orang yang hendak memandikannya."

Lalu Rasulullah S.A.W memerintahkan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. ikut orang muda itu untuk melihat masalahnya.

Setelah mengikut orang itu, maka Abu Bakar r.a dan Umar r.s. mendapati ayah orang mudah itu telah bertukar rupa menjadi babi hitam, maka mereka pun kembali dan memberitahu kepada Rasulullah S.A.W, "Ya Rasulullah S.A.W, kami lihat mayat ayah orang ini bertukar menjadi babi hutan yang hitam.

"Kemudian Rasulullah S.A.W dan para sahabat pun pergi ke rumah orang muda dan baginda pun berdoa kepada Allah S.W.T, kemudian mayat itu pun bertukar kepada bentuk manusia semula.

Lalu Rasulullah S.A.W dan para sahabat menyembahyangkan mayat tersebut.

Apabila mayat itu hendak dikebumikan, maka sekali lagi mayat itu berubah menjadi seperti babi hutan yang hitam, maka Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada pemuda itu, "Wahai orang muda, apakah yang telah dilakukan oleh ayahmu sewaktu dia di dunia dulu?"

Berkata orang muda itu, "Sebenarnya ayahku ini tidak mahu mengerjakan solat." Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda, "Wahai para sahabatku, lihatlah keadaan orang yang meninggalkan sembahyang. Di hari kiamat nanti akan dibangkitkan oleh Allah S.W.T seperti babi hutan yang hitam."

Di zaman Abu Bakar r.a ada seorang lelaki yang meninggal dunia dan sewaktu mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak.

Apabila mereka membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular sedang membelit leher mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap darah mayat.Lalu mereka cuba membunuh ular itu.

Apabila mereka cuba untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, "Laa ilaaha illallahu Muhammadu Rasulullah, menagapakah kamu semua hendak membunuh aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang memerintahkan kepadaku supaya menyeksanya sehingga sampai hari kiamat."

Lalu para sahabat bertanya, "Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh mayat ini?".

Berkata ular, "Dia telah melakukan tiga kesalahan, di antaranya :
  • Apabila dia mendengar azan, dia tidak mahu datang untuk sembahyang berjamaah.
  • Dia tidak mahu keluarkan zakat hartanya.
  • Dia tidak mahu mendengar nasihat para ulama.
Maka inilah balasannya.
 Sumber : iluvislam.com

oleh Aqillah Aziz pada 25 Desember 2010 jam 17:50

73 Kata Hikmah Imam Ali Bin Abu Thalib kw " Setiap sesuatu ada perusaknya...



Bismillaahirrahmaanirrahiim

Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh

Sahabatku rahimakumullah,

Di antara sekian banyak sahabat Nabi, hanya Ali bin Abi Thalib-lah yang diberikan sebutan karamallahu wajhah; sebuah sebutan yang juga berarti doa “Semoga Allah memuliakan wajahnya” atau “Allah telah memuliakan wajahnya.”

Semua ulama sepakat bahwa doa itu hanya dikhususkan untuk Imam Ali saja seperti halnya sebutan shalallahu ‘alaihi wa alihi wassalam untuk Nabi Muhammad atau do'a Radhiyallahu'anhu bagi sahabat-sahabat yang lain dan juga untuk Ali Bin Abu Thalib..

Ada beberapa riwayat yang menjelaskan mengapa Imam Ali diberi sebutan kawamallahu wajhah, salah satu riwayat di antaranya menjelaskan alasan tentang doa itu

Pertama, di antara semua sahabat Nabi saw, hanya Ali bin Abi Thalib yang tidak pernah menyembah berhala. Dia masuk Islam dalam usia yang masih kecil sehingga tak sempat beribadat kepada berhala. Artinya, wajah beliau tidak pernah disujudkan kepada berhala manapun. Ali kecil langsung sujud kepada Allah swt.

Alasan kedua, Imam Ali adalah orang yang dikenal tak pernah melihat aurat, baik aurat dirinya sendiri maupun aurat orang lain, sehingga wajahnya terjaga dari hal-hal yang tidak patut di lihat..

Dari sekian banyak sahabat Nabi saw juga, Imam Ali bin Abi Thalib kw adalah sahabat yang paling banyak memberi kata-kata hikmah bagi ummat Islam. Kitab Nahjul Bhalagah adalah satu Kitab yang berisi Kumpulan Khutbah-Khutbah beliau yang banyak memuat kata-kata hikmah. Oleh karenanya Imam Ali Bin Abi Thalib kw juga disebut Penghulu kaum sufi.

Nah di bawah ini adalah 73 yang ada perusaknya, yang merupakan kata-kata hikmah dari Imam Ali Bin Abi Thalib kw yang saya kutip dari Kitab Mizanul-hikmah sebagai berikut :

Rabu, 22 Desember 2010

Dzikir Pagi dan Petang Sesuai Tuntunan Rasulullah Serta Keutamaannya


Sangat banyak ayat ataupun hadits yang menerangkan keutamaan berdzikir kepada Allah. Bahkan Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan dan menganjurkan kepada kita agar senantiasa berdzikir dan mengingat-Nya (lihat edisi 29/III tentang dzikir-dzikir setelah shalat wajib). Jangan sampai harta, anak-anak ataupun kegiatan duniawi melalaikan kita dari berdzikir kepada Allah.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munaafiquun:9)
Sangat banyak ayat ataupun hadits yang menerangkan keutamaan berdzikir kepada Allah. Bahkan Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan dan menganjurkan kepada kita agar senantiasa berdzikir dan mengingat-Nya (lihat edisi 29/III tentang dzikir-dzikir setelah shalat wajib). Jangan sampai harta, anak-anak ataupun kegiatan duniawi melalaikan kita dari berdzikir kepada Allah.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munaafiquun:9)
Di antara dzikir-dzikir yang disunnahkan untuk dibaca dan diamalkan adalah dzikir pagi dan sore. Dzikir pagi dilakukan setelah shalat shubuh sampai terbit matahari atau sampai matahari meninggi saat waktu dhuha, kira-kira jam tujuh atau jam delapan. Adapun dzikir sore dilakukan setelah shalat ‘ashar sampai terbenam matahari atau sampai menjelang waktu ‘isya.
Banyak sekali keutamaan dzikir pagi dan sore sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun bacaannya dan penjelasan tentang keutamaannya adalah sebagai berikut:
1. Membaca:
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ
Dibaca sekali ketika pagi dan sore. Dari Anas yang dia memarfu’kannya (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah setelah shalat shubuh sampai terbitnya matahari lebih aku sukai daripada membebaskan/memerdekakan empat orang dari keturunan Nabi Isma’il (bangsa ‘Arab). Dan sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah setelah shalat ‘ashar sampai terbenamnya matahari lebih aku sukai daripada membebaskan empat orang (budak).” (HR. Abu Dawud no.3667 dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahih Abu Dawud 2/698)
2. Membaca ayat kursi (Al-Baqarah:255)
Dibaca sekali ketika pagi dan sore. “Barangsiapa membacanya di pagi hari maka akan dilindungi dari (gangguan) jin sampai sore, dan barangsiapa yang membacanya di sore hari maka akan dilindungi dari gangguan mereka (jin).” (HR. Al-Hakim 1/562 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahih At-Targhiib wat Tarhiib 1/273)
3. Membaca surat Al-Ikhlaash, Al-Falaq dan An-Naas.
Dibaca 3x ketika pagi dan sore. “Barangsiapa yang membacanya tiga kali ketika pagi dan ketika sore maka dia akan dicukupi dari segala sesuatu.” (HR. Abu Dawud 4/322, At-Tirmidziy 5/567, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/182)

Jumat, 03 Desember 2010

Etika Merayakan Peringatan Maulid Nabi


Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kaukabri ibn Zainuddin Ali bin Baktakin(l. 549 H. w.630 H.), menurut Imam Al-Suyuthi tercatat sebagai raja pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW ini dengan perayaan yang meriah luar biasa [1]Tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan maulid ini.
Imam Al-Hafidz Ibnu Wajih menyusun kitab maulid yang berjudul “Al-Tanwir fi Maulidi al-Basyir al-Nadzir”. Konon kitab ini adalah kitab maulid pertama yang disusun oleh ulama.
Di negeri kita tercinta ini, meskipun tidak dapat disebut sebagai Negara Islam, banyak masyarakat yang merayakannya dan telah menjadi tradisi mereka. Pemerintah pun telah menjadikan peringatan ini salah satu agenda rutin dan acara kenegaraan tahunan yang dihadiri oleh pejabat tinggi negara serta para duta besar negara-negara sahabat berpenduduk Islam. Hari peringatan maulid Nabi tekah telah disamakan dengan hari-hari besar keagamaan lainnya.

Perbedaan Niat Imam dan Makmum Masbuk


Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Assalamualaikum
Tanya: Sewaktu Saya sholat sunnah, dari belakang ada yang menjadi makmum dengan menepuk pundak saya terlebih dahulu. Bagaimana sikap Saya yang benar dan apa hukumnya. Terima Kasih. Wassalamualaikum
Sri Soedono
[Jawab]
Perbedaan niat imam dan makmum
Fenomena yang sering menimbulkan pertanyaan di kalangan kaum muslimin Indonesia adalah manakala seorang sholat sunnah sendiri, misalnya sholat sunnah ba'diyah, atau sholat fardlu sendiri kemudian datanglah seseorang yang bermakmum kepadanya dengan menepuk pundak si mushalli pertama, sahkah sholat seperti ini? Permasalahan ini dalam kitab fikih dibahas dengan judul perbedaan niat imam dan makmum. Para ulama berbeda pendapat mengenai tata cara sholat seperti itu.
Pendapat pertama adalah madzhab Syafi'I mengatakan bahwa sah sholat jamaah dengan perbedaan niat imam dan makmum secara mutlak. Jadi meskipun imam sholat sunnah dan makmum sholat fardlu, imam sholat dhuhur dan makmum sholat ashar, imam sholat ada' dan makmum sholat qadla, semuanya sah, asalkan format sholat imam dan makmum sama. Kalau formatnya beda, maka tidak sah, seperti misalnya imam sholat gerhana dan makmum sholat isya', maka tidak diperbolehkan. Madzhab Syafi'I ini merupakan madzhab yang paling longgar.
Pendapat kedua adalah madzhab Maliki yang mengatakan tidak sah sholat imam dan makmum yang berbeda niatnya, secara mutlak. Mereka yang sholat fradlu tidak boleh bermakmum dengan imam yang sholat sunnah, begitu makmum sholat dhuhur tidak sah bila imamnya sholat selain fardlu. Ini pendapat paling ketat.
Pendapat ketiga adalah madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa boleh orang sholat sunnah di belakang imam yang sholat fardlu tapi tidak sebaliknya. Begitu juga tidak sah sholat makmum yang berbeda dengan sholat imamnya meskipun sama-sama fardlu.
Dalil-dalil:
Dalil pendapat pertama adalah:
1. Hadist riwayat Syafi'I dari Abu Bakrah bahwa Rasulullah s.a.w. keluar untuk mendamaikan satu persengketaan di Bani Sulaim, lalu beliau membagi sahabatnya menjadi dua kelompok, kemudian beliau sholat mengimami dengan kelompok satu, kemudian sholat lagi mengimami dikelompok kedua. Diriwayatkan itu sholat maghrib.
Sangat jelas pada hadist tersebut bahwa Rasulullah mengimami kelompok kedua, padahal beliau telah sholat di kelompok pertama. Berarti sholat Rasulullah sunnah dan sholat makmum fardlu.
2. Hadist riwayat Muslim dari Jabir bin Abdullah bahwa Suatu hari Muadz sholat bersama Rasulullah s.a.w. lalu ia datang ke kaumnya lalu ia mengimami kaumnya sholat Isya' dengan membaca surat Baqarah, lalu seorang lelaki keluar dari jamaah dan menyelesaikan sendiri sholatnya. Orang-orang pun menegurnya "Apakah anda orang manafik?", iapun menjawab"Tidak, aku akan adukan masalah ini kepada Rasulullah". Sesampai kepada Rasulullah, orang itu berkata "Wahai Rasulullah, kami orang-orang bekerja siang, Muzdz telah mengimami kami sholat Isya' telah larut dan membaca surat Baqarah".  Ketika Rasulullah mendengar cerita itu, ditegurnya Muad'z "Apakah angkau orang yang suka membuat fitnah? Mengapa tidak kau baca surat Sabbihis dan Wallaili Idza Yaghsyaa".
Hadist ini juga menunjukkan perbedaan sholat imam dan makmum, dimana Muadz telah sholat Isya bersama Rasulullah lalu menjadi imam di kaumnya. Bagi Muadz sholat sunnah dan bagi kaumnya sholat fardlu.
3. Hadist riwayat Ahmad dll. Suatu hari Rasulullah s.a.w. sholat bersama sahabatnya, selesai salam datanglah seorang lelaki ketinggalan lalu ia hendak sholat sendiri, lalu Rasuullah bersabda "Siapa yang mau bersedekah dengan orang ini dengan berjamaah dengannya".
Hadist ini juga menunjukkan sahnya sholat meskipun dengan perbedaan niat antara makmum dan imam.
Imam Syafi'I menyimpulkan bahwa riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa perbedaan niat sholat antara imam dan makmum tidak membatalkan sholat jamaah.
Dalil pendapat kedua dan ketiga:
1. Hadist diriwayatkan Bukhari dan Muslim dll. Rasulullah s.a.w. bersabda "Sesungguhnya dijadikan imam untuk diikuti, ketika ia takbir maka takbirlah, ketika ruku' maka ruku'lah ketika sujud sujudlah, ketika ia sholat berdiri maka berdirilah …
Hadist tersebut menegaskan bahwa makmum harus mengikuti imam, perbedaan niat makmum menunjukkan sikap tidak mengikuti imam, maka tidak sah sholatnya.
2. Hadist riwayat Ashabus Sunan dari Barra' bin Azib, Rasulullah s.a.w. bersabda "Janganlah kalian berbeda, maka berbedalah hati kalian, sesungguhnyaAllah dan MalakatNya mendoakan para mushalli di shaf pertama".
Hadist ini melarang berbeda dalam melakukan sholat, baik pada shaf maupun niat, maka perbedaan niat imam dan makmum menjadikan sholat tidak sah.
Imam Abu Hanifah nampak mencoba menggabung  hadist-hadist di atas secara tekstual, bahwa hanya makmum sholat sunnah boleh mengikuti imam yang sholat fardlu seperti yang dicontohkan dalam hadist.
Bagi pengikut madzhab Syafi'I, ketika sholat sendiri kemudian merasa ada makmum yang datang mengikutinya, hendaknya ia tidak menunggu makmum tersebut, misalnya dengan memperpanjang bacaan dlsb, tapi hendaknya ia  konsentrasi penuh dengan sholatnya.
Bagi yang bermakmum kepada orang yang sholat sendiri atau sholat sunnah, ada baiknya makmum menepuk pundak mushalli. Menepuk pundak mushally [orang yang salat] adalah sebuah isyarat adanya seseorang yang hendak bermakmum kepadanya. Demikian ini agar ia melakukan niat menjadi imam. Karena tanpa niat tersebut ia tidak mendapatkan pahala berjamaah. Sementara jamaah itu sendiri adalah sah, tanpa ada niat dari imam, selama makmum telah berniat jamaah. Jadi, niatnya imam hanya untuk dirinya sendiri, agar ia mendapatkan pahala berjamaah.
Untuk wanita yang ingin berjamaah dengan seseorang yang masbuk, ia boleh menepuk pundak jika dirasa tidak menimbulkan fitnah. Dan jika dirasa demikian, ia boleh memberi isyarat apapun yang dapat dipahami oleh masbuk tsb. atau jika sulit, tak perlu ia memberi isyarat. mengetahuinya imam akan adanya seseorang yang bermakmum kepadanya tidak merupakan syarat sah-nya berjamaah. Ketentuan  ini tidak untuk salat Jum'at. Karena di antara syarat sahnya salat jumat adalah dilaksanakan secara berjamaah. Pada salat Jum'at ini, imam harus berniat jamaah sejak takbiratul ihram.


Copyright PesantrenVirtual.com. Supported byJoomla!.
publish on raden said.blogger.com