Jumat, 11 Maret 2011

Mutiara Hikmah Dari Kalam Imam Ali AS (KW)

Ø  Permulaan kebaikan dipandang ringan, tetapi akhirnya dipandang berat. Hampir-hampir saja pada permulaannya dianggap sekadar menuruti khayalan, bukan pikiran; tetapi pada akhirnya dianggap sebagai buah pikiran, bukan khayalan. Oleh karena itu, dikatakan bahwa memelihara pekerjaan lebih berat dari pada memulainya

Ø  Memulai pekerjaan adalah sunnah, sedangkan memeliharanya adalah wajib
Ø  Jika engkau ingin mengetahui watak seseorang, maka ajaklah dia bertukar pikiran dengan mu. Sebab, dengan bertukar pikiran itu, engkau akan mengetahui kadar keadilan dan ketidakadilannya, kebaikan dan keburukannya
Ø  Duduklah bersama orang-orang bijak, baik mereka itu musuh atau kawan. Sebab, akal bertemu dengan akal
Ø  Sebaik-baik kehidupan adalah yang tidak menguasaimu dan tidak pula mengalihkan perhatiaanmu (dari mengingat Allah SWT)
Ø  Tanyailah hati tentang segala perkara karena sesungguhnya ia adalah saksi yang tidak akan menerima suap
Ø  Kecemburuan seorang wanita adalah kekufuran, sedangkan kecemburuan seorang laki-laki adalah keimanan.
Ø  Berbicaralah, niscaya kalian akan dikenal karena sesungguhnya seseorang tersembunyi dibawah lidahnya
Ø  Sesungguhnya hati memiliki keinginan, kepedulian, dan keengganan. Maka, datangilah ia dari arah kesenangan dan kepeduliaannya. Sebab, jika hati itu dipaksakan, ia akan buta
Ø  Tidak ada kenikmatan di dunia ini yang lebih besar dari pada panjang umur dan badan yang sehat
Ø  Sesungguhnya wanita (sanggup) menyembunyikan cinta selama empat puluh tahun, namun tidak (sangup) menyembunyikan kebenciaan walau hanya sesaat.

Shalat sunat rawatib adalah shalat yang mengiringi shalat fardhu lima waktu dalam sehari bisa dikerjakan sebelum dan sesudahnya. Tata cara pelaksanaan shalat sunat rawatib dapat dikerjakan sendiri-sendiri tidak berjama’ah, mengambil tempat shalat yang berbeda dengan tempat melakukan shalat fardhu, dilakukan dua rakaat dengan satu salam, dan tidak diawali dengan azan maupun qomat. Shalat sunat rawatib bisa berfungsi untuk menambah dan menyempurnakan kekurangan dari shalat fardhu. 

Adapun jumlah rakaat dan waktunya berdasarkan tinjauan lima mazhab sebagai berikut:
1.    Mazhab Syafi’iyyah
      1.1.    Dua rakaat sebelum Subuh.
      1.2.    Dua rakaat sebelum Dzuhur.
      1.3.    Dua rakaat sesudah Dzuhur.
      1.4.    Dua rakaat sesudah Magrib.
      1.5.    Dua rakaat sesudah Isya’.
      1.6.    Satu rakaat witir.

2.    Mazhab Malikiyah
      2.1.    Tidak ada batas baik sebelum atau sesudah shalat fardhu.
      2.2.    Yang utama yaitu:
                2.2.1.    Empat rakaat sebelum Dzuhur.
                2.2.2.    Enam rakaat sesudah Maghrib.

3.    Mazhab Hambaliyah
       3.1.    Dua rakaat sebelum Subuh.
       3.2.    Dua rakaat sebelum Dzuhur.
       3.3.    Dua rakaat sesudah Dzuhur.
       3.4.    Dua rakaat sesudah Maghrib.
       3.5.    Dua rakaat sesudah Isya’.

4.    Mazhab Hanafiyah
       Mazhab Hanafiyah membagi shalat sunnat  menjadi sbb:
       4.1.    Shalat Sunnat Masnunah adalah shalat sunnat yang banyak
                 dikerjakan oleh Nabi dan Khulafa al-Rasyidin yang terdiri dari:
                4.1.1.    Dua rakaat sebelum Subuh.
                4.1.2.    Empat rakaat sebelum Dzuhur.
                4.1.3.    Dua rakaat sesudah Dzuhur kecuali waktu Jum’at.
                4.1.4.    Dua rakaat sesudah Maghrib.
                4.1.5.     Dua rakaat sesudah Isya’.
      4.2.    Shalat Sunnat Mandubah adalah shalat sunnat yang
                diperintahkan oleh Nabi namun jarang dikerjakan oleh Nabi
                yang terdiri dari:





sumber : http://rumahsantri.multiply.com/
posted by raden said

Kunci Ikhlas


Salah satu tujuan utama dalam beramal adalah mendapat pahala dari Allah ta’alla, lantas bagaimana jika amalan yang sangat diharapkan sebagai tabungan di akherat ternyata ‘kopong’ alias sia-sia dan tak tertulis sabagai amalan?
Bagaimana mungkin amalan akan diterima tatkala kita tidak mengetahui cara agar amalan bisa diterima dan mendapat ridho dari Allah? Apalagi jika barometer kesuksesan dalam beramal tatkala mendapat pujian belaka. Tak dapat diragukan lagi walaupun lisan ini mengatakan ‘Aku ikhlas’ namun ikhlas tak semudah hanya ucapan saja dan malahan perlu dicek lagi arti keikhlasannya. Baiklah marilah kita berusaha mengetahui kaidah-kaidah dalam beramal agar amalan kita tidak sia-sia. Dan ingatlah tak ada satu detik waktupun menjadi sia-sia dan berakhir penyesalan jika segera diikuti dengan taubat dan membenahi cara beramal dengan benar.
Amalan tidak lepas dari 2 hal yaitu ikhlas dan ittiba’.
  1. Ikhlas adalah niat dalam beramal, dan ikhlas merupakan ruh bagi amalan. Dalilnya,“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niat dan sesungguhnya setiap orang itu mendapatkan balasan sesuai dengan yang diniatkannya.” (Muttafaqun’alaihi)
  2. Yang kedua adalah ittiba’. Iittiba’ adalah amalan hendaknya dilakukan sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ittiba’ ini laksana jiwa bagi amalan. Allah ta’ala berfirman,“Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali Imran:31)
Kedua syarat tersebut jangan sampai tercecer, karena jika salah satu syarat hilang maka ia tidak benar (bukan amal shalih) dan tidak akan diterima di sisi Allah, di antara dalil yang memperkuat pernyataan tersebut,
“…Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (Qs. AL Kahfi: 110)